Denpasar (ANTARA) -
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali menggandeng Badan Pusat Statistik (BPS) untuk melakukan survei literasi dan inklusi keuangan 2026.“Data ini akan digunakan untuk merumuskan kebijakan dan strategi dalam upaya peningkatan literasi dan inklusi keuangan di masa depan,” kata Kepala Direktorat Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK), Edukasi, Pelindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis OJK Provinsi Bali Irhamsah di Denpasar, Bali, Rabu.
Ada pun survei literasi dan inklusi keuangan 2026 di Bali akan dipusatkan di Kabupaten Tabanan, Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Bangli dengan target jumlah responden sebanyak 270 orang.
Pelaksanaan kegiatan SNLIK 2026 dijadwalkan akan dilaksanakan pada 21 Januari hingga 10 Februari 2026 dengan metode wawancara dilakukan secara tatap muka.
Sebagai tahap awal, regulator lembaga jasa keuangan itu memberikan pelatihan dan pemahaman kepada petugas survei tentang inklusi dan literasi keuangan serta tata cara dan metodologi pelaksanaan survei.
Selain itu, petugas survei juga diberikan materi dasar tentang OJK dan lembaga jasa keuangan (LJK) sebagai bagian dari materi survei.
Petugas survei itu merupakan mitra dari BPS yang telah berpengalaman dalam melaksanakan kegiatan survei.
Secara nasional, pelaksanaan survei literasi dan inklusi keuangan tahun 2026 akan mengikutsertakan 10.800 responden dengan rentang usia 15-79 tahun di 34 provinsi dengan cakupan 120 kota/kabupaten.
Adapun data yang dikumpulkan mencakup keterangan tentang perbankan, pasar modal, perasuransian, lembaga pembiayaan, dana pensiun, pegadaian, lembaga keuangan mikro.
Kemudian, teknologi keuangan pinjam dan meminjam (Fintech P2P Lending), penyelenggaraan sistem pembayaran di luar pengawasan OJK, serta keterampilan sikap dan perilaku keuangan.
Sementara itu, berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024, indeks literasi keuangan penduduk Indonesia mencapai 65,43 persen, sementara indeks inklusi keuangan berada pada angka 75,02 persen.
Capaian itu menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman masyarakat (literasi) terhadap produk dan layanan keuangan dibandingkan survei sebelumnya pada tahun 2022 yakni indeks literasi keuangan tercatat sebesar 49,68 persen dan terdapat penurunan pada indeks inklusi keuangan dari 85,10 persen pada 2022 menjadi 75,02 persen pada 2024.
