Denpasar (Antara Bali) - Anak-anak dan remaja Bali kembali tekun berlatih tari pendet, setelah jenis tari selamat datang khas Pulau Dewata itu sempat heboh dianggap diklalim sebagai milik negara tetangga, Malaysia.

Bahkan  kegiatan lomba seni tari anak-anak dan remaja se Bali yang melibatkan sekitar 300 peserta selama dua hari di Kota Gianyar, Bali, menampilkan unggulan tari pendet, kata Kadek Suartaya, SS Kar, MSi, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Minggu.

Ia mengatakan, anak-anak dan remaja utusan dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali, menampilkan tari pendet dalam berbagai versi.

Tari sebagai ungkapan selamat datang yang diwarisi masyarakat Bali secara turun temurun itu, tidak sekedar sebagai tarian menyambut tamu-tamu penting dalam suatu kegiatan seremonial, namun juga untuk kelengkapan kegiatan ritual di pura maupun tempat suci milik keluarga.

Kebangkitan serta kegairahan anak-anak dan remaja berlatih tari pendet, merupakan penyegaran, karena jenis tarian tersebut sebelumnya sudah banyak dikuasai anak2, remaja hingga ibu-ibu.

"Kasus pengklaiman tari pendet oleh Malaysia itu secara tidak langsung menyegarkan kembali ingatan masyarakat kita untuk lebih banyak mementaskan tari pendet," tutur Kadek Suartaya yang juga dikenal sebagai pengamat seni dan budaya di Pulau Dewata.

Suartaya, salah seorang kandidat doktor pada kajian budaya Universitas Udayana, menilai, anak-anak, remaja, bahkan ibu-ibu rumah tangga di daerah "gudang seni" Kabupaten Gianyar, ingin merasakan indahnya membawakan tari pendet di atas panggung.

Oleh sebab itu lomba tari anak-anak dan remaja se Bali yang baru pertama kali digelar "Sanggar Blega" dengan didukung Pemerintah Kabupaten Gianyar, menmpilkan berbagai jenis tarian tradisional Bali, dengan unggulan tari pendet.

"Kasus pengklaiman tari pendet oleh Malaysia beberapa waktu lalu dari segi positifnya mampu membangkitkan kembali semangat dan kegairahan masyarakat terhadap warisan seni budaya kita," tutur Kadek Suartaya.(*)




: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026