Bangli (Antaranews Bali) - Prosesi "mapepegat" mengakhiri seluruh rangkaiaan upacara pemakaman almarhum Ni Luh Putu Erik Wiryastuti, istri Bupati Bangli I Made Gianyar dilaksanakan di rumah duka di Desa Bunutin, Kintamani, Bangli.
Bupati Bangli I Made Gianyar pada kesempatan itu menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang selama ini telah membantu dan mendoakan sehingga seluruh rangkaian upacara pemakaman almarhum isrtinya dapat berjalan baik dan lancar.
Disampaikan Made Gianyar, istri tercintanya pergi untuk selama-lamanya pada 6 September lalu, setelah berjuang melawan sakit kanker. Sehari kemudian yakni pada tanggal 7 September, dilaksanakan prosesi "mekingsan" di Setra Desa Bunutin.
Kemudian pada tanggal 19 September yang bertepatan dengan otonan almarhum, dilaksanakan prosesi "ngurug". “Pada hari ini sesuai tata krama proses penguburan dilaksanakan "mapepegat". Memutus hubungan bahwa kami, saya beserta anak-anak ada di dunia ini dan ibu sudah ada pada dunia yang berbeda. Tapi tentunya spirit ibu akan selalu bersama kami, bersama saya dan anak-anak," katanya pada acara ritual tersebut Sabtu (22/9).
Orang nomor satu di Kabupaten Bangli ini pun menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak, yang selama ini telah membantu selama masa pengobatan istrinya. Terimakasih juga disampaikan Made Gianyar atas bantuan dan dukungan moril yang telah diberikan baik dari keluarga, kerabat, kawan dan seluruh masyarakat, sehingga pelaksanaan rangkaian upacara pemakaman dapat berjalan lancar.
Tak lupa, Made Gianyar juga memohon maaf kepada semua pihak jika semasa hidup istri tercintanya ada salah kata-kata maupun perbuatan. Dirinya berharap almarhum yang telah pergi untuk selama-lamanya mendapat tempat yang terbaik di sisi Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
"Terima kasih atas dukungan moril yang telah diberikan kepada saya dan anak-anak, sehingga kami bisa ikhlas dan tabah," kata Made Gianyar.
Dalam kesempatan itu, Gianyar juga menyampaikan bahwa belasungkawa yang diterimanya berupa uang sejumlah Rp 135 juta akan diserahkan sepenuhnya kepada Banjar Bunutin untuk dikelola menjadi dana abadi di Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa adat setempat.
Sehingga nantinya dana tersebut bisa dimanfaatkan untuk pelaksanaan upacara ngaben massal yang digelar di Desa Bunutin setiap dua tahun sekali. Made Gianyar juga berharap kepada masyarakat yang memiliki penghasilan lebih, dapat menyisihkan sebagian rezekinya untuk menambah dana abadi ini. Sehingga beban masyarakat saat pelaksanaan ngaben masal, menjadi semakin ringan.
Seperti diberitakan sebelumnya, Ny. Erik Gianyar menghembuskan nafas terakhirnya saat menjalani perawatan di RSUP Sanglah, Denpasar setelah kurang lebih empat tahun berjuang melawan penyakit kanker yang beliau derita. (*)
"Mapepegat" akhiri rangkaian pemakaman istri Bupati Bangli
Senin, 24 September 2018 12:36 WIB