Denpasar (Antara Bali) - Pejabat Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan merasa optimis jika Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah menjadi rumah sakit milik pemerintah pertama di Indonesia yang menyadang akreditasi "Joint Commission International" (JCI).

Dirjen Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan, Sugiantoro mengatakan hal tersebut di sela-sela pencanangan akreditasi internasional JCI oleh rumah sakit terbesar di Pulau Dewata itu, Selasa.

"Akreditasi JCI adalah satu-satunya yang sudah diakui oleh akreditor di dunia, sehingga saat ini tidak hanya RSUP Sanglah hampir seluruh RS vertikal di Tanah Air sedang mencanangkan hal tersebut," katanya.

Dia menjelaskan, rasa optimis itu muncul melihat kesiapan pihak rumah sakit rujukan terbesar di Bali itu untuk mewujudkannya, sehingga secara berkala melakukan pembenahan.

"Selain pembenahan, jajaran manajemen juga telah melakukan berbagai pelatihan dan pembentukan tim kecil untuk mempersiapkan hal tersebut," ujarnya.

Selain itu, tambah Sugiantoro, dilakukan juga pembinaan guna lebih meningkatkan kualitas pelayanan sebagaimana yang ditekankan dalam JCI.

"Saya optimis jika saat 2012 RSUP Sanglah bisa menyandang akreditasi berstandar pelayanan internasional tersebut," katanya menandaskan.

Sugiantoro mengatakan, selain rumah sakit tersebut, ada enam RS besar di Indonesia yang juga mencanangkan hal yang sama yakni, RSCM, Rumah Sakit Adam Malik, Fatmawati, Gatot Subroto, Wahidin dan Sardjito.

"Kick off" atau pencanangan JIC yang dilakukan oleh RSUP Sanglah adalah yang keempat kalinya. Sedangkan yang pertama kalinya adalah RSCM, disusul Rumah Sakit Wahidin dan Gatot Subroto.

"Pencanangan tersebut adalah bagian dari strategi Kemenkes bahwa pada 2014 mendatang, paling tidak rumah sakit di lima kota besar sudah terakreditasi layanan internasional," ujarnya.

Sementara Direktur Utama RSUP Sanglah I Wayan Sutarga mengatakan, pihaknya berkomitmen dan yakin jika pada 2012 rumah sakit yang dipimpinnya bisa memperoleh akreditasi JCI.(**)




Editor : Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026