Desa Umejero Lestarikan Makanan Khas Kuningan "Entil"

Desa Umejero Lestarikan Makanan Khas Kuningan

Ilustrasi - Pedagang menawarkan pernak-pernik perlengkapan sesajen berbahan janur dan lontar untuk perayaan Hari Raya Galungan di pasar tradisional di Kabupaten Klungkung, Bali, Minggu (29/10). ANTARA FOTO/Wira Suryantala/wdy/2017. (edm)

Singaraja (Antara Bali) - Desa Umejero di wilayah Kabupaten Buleleng, Bali, melestarikan makanan khas Hari Suci Kuningan yakni "Entil" atau lontong yang dibungkus dengan daun khusus.

"Kuningan selalu dirayakan dengan memasak makanan tradisional. Salah satunya `entil` yang mirip lontong," kata Nyoman Arya (50), salah satu warga Umejero, Singaraja, Sabtu.

Ia mengatakan sepintas antara "entil" dan juga ketupat memiliki kemiripan. Hanya entil dibungkus dengan daun khusus berbentuk agak lebar.

"Daun yang dipakai namanya daun `telengidi`. Makanan ini juga khas di wilayah Pupuan. Desa kami memang lokasinya berbatasan langsung dengan Pupuan," tutur dia.

Memasak "entil" cukup sederhana dan sama dengan ketupat pada umumnya. Beras dimasukkan ke dalam bungkusan daun, kemudian direbus dalam air panas.

Entil sendiri memiliki cita rasa khas. Teksturnya lembut dan bisa disajikan bersama-sama dengan panganan lain seperti lawar dan juga beraneka jenis olahan daging.

"Entil itu paling enak dimakan bersama lawar. Kalau Kuningan biasanya disajikan bersama dengan `saur` atau parutan kelapa yang digoreng dan diisi bumbu khas Bali," terang dia.

Salah satu makanan khas Pulau Dewata tersebut kini mulai jarang ditemukan. Biasanya, hanya dibuat ketika perayaan hari suci umat Hindu seperti Kuningan.

"Kalau dulu banyak yang jual. Saat ini sudah jarang. Hari raya pun sedikit yang memasak, padahal ini warisan kuliner leluhur yang harus dilestarikan," demikian Arya. (*)