"Pembangunan gedung permanen tersebut akan menghabiskan dana sekitar Rp3 miliar," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karangasem I Wayan Purna di Amlapura, Rabu.
Ia mengatakan, pembangunan gedung yang berada di luar sebelum masuk kompleks pura itu sekaligus merupakan penataan kawasan suci yang selama ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan dalam dan luar negeri saat berliburan di Bali.
Selain pembangunan gedung diorama itu, Pemkab Karangasem juga mengajukan dana kepada pemerintah pusat untuk melengkapi fasilitas pasar seni Manggis yang lokasinya hanya beberapa kilometer sebelum Pura Besakih.
Pasar seni tersebut dibangun berdekatan dengan pasar tradisional. Di pasar itu akan dijual berbagai jenis barang cenderamata hasil karya perajin dan seniman kepada wisatawan yang berkunjung ke objek wisata Pura Besakih.
"Realisasi dua bangunan itu sangat tergantung kucuran dana pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata," kata I Wayan Purna.
Ketua Paguyuban Guide (Pramuwisata) khusus objek wisata Pura Besakih I Putu Artawan menjelaskan, pramuwisata yang melayani wisatawan di objek wisata itu tercatat 400 orang.
"Dari 400 orang itu yang sudah mendapat pelatihan khusus di Dinas Pariwisata sebanyak 252 orang, sisanya diharapkan bisa dilakukan secara bertahap," ujarnya.
Ia mengatakan, penghasilan pramuwisata yang mendampingi wisatawan saat menikmati Pulau Bali rata-rata masih rendah, setiap orang dalam sebulan tidak lebih dari Rp200.000.
"Pemkab Karangasem perlu memberikan perhatian antara lain membantu pakaian seragam yang mampu mewujudkan kebersamaan dalam melaksanakan tugas, serta bantuan alat komunikasi handy talky untuk keselamatan wisatawan, terutama yang mendaki ke puncak Gunung Agung," kata I Putu Artawan.(*)
Editor : Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.