Dispar Bali: Pahami Selera Wisatawan

Dispar Bali: Pahami Selera Wisatawan

ILUSTRASI - Sejumlah wisatawan mancanegara berjalan di dermaga saat turun dari kapal Selebrity Cruise dan Aegean Odyssey di Pelabuhan Benoa, Bali, Jumat (25/1). (FOTO ANTARA/Nyoman Budhiana/nym/2013)(e011)

Denpasar (Antara Bali) - Pemerintah Provinsi Bali mengingatkan pelaku pariwisata di daerah itu dapat memahami karakteristik dan selera wisatawan yang berbeda-beda pada setiap negara, agar dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata.

"Belakangan kami serius menggarap potensi wisatawan sejumlah negara yang warganya makin banyak pelesiran ke luar negeri. Tiongkok menjadi salah satu target utama promosi karena dalam setahunnya tercatat 110 juta warganya berwisata ke berbagai destinasi wisata di seluruh dunia," kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Anak Agung Gede Yuniartha Putra, di Denpasar, Kamis.

Menurut dia, kalau saja 10 persen dari jumlah tersebut bisa ditarik ke Bali, itu akan berpengaruh signifikan bagi peningkatan jumlah kunjungan.

Selain itu, setelah pelesiran Raja Arab Saudi ke Bali, pihaknya juga melirik potensi wisatawan negara Timur Tengah yang selama ini belum menjadi target promosi.

Apalagi, tambah Yuniartha, pamor Pulau Dewata juga makin bersinar dengan kedatangan Presiden AS ke-44 Barack Obama beberapa waktu yang lalu.

"Langkah inovasi perlu dilakukan agar tak ada kesan monoton. Selain itu, para pelaku pariwisata harus dapat memahami selera wisatawan masing-masing negara yang berbeda-beda," ujarnya.

Yuniartha menyebut jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali terus mengalami peningkatan. Tahun 2010, wisman yang datang sebanyak 2.493.058, selanjutnya pada 2011 dan 2012 meningkat menjadi 2.756.579 dan 2.892.019. Jumlah tersebut kian meningkat pada tiga tahun berikutnya.

Bali kedatangan 3.278.598 wisatawan pada tahun 2013 dan bertambah menjadi 3.766.638 wisman di tahun 2014. Sedangkan pada tahun 2015 dan 2016, wisman yang datang ke Pulau Dewata dalam kurun waktu dua tahun terakhir mencapai 4,001 juta dan 4,92 juta orang wisatawan.

Di sisi lain, Yuniartha menyoroti data lama tinggal (length of stay) wisman di Pulau Dewata. Menyitir data yang disajikan Kementerian Pariwisata RI, "length of stay" wisman di Bali tercatat rata-rata masih berkisar 10,8 hari. "Perhitungannya didasarkan pada waktu kedatangan dan keberangkatan wisatawan di pintu masuk Bali," ucapnya.

Namun jika dikombinasikan dengan data Badan Pusat Statistik yang menyebut kalau lama tamu menginap di hotel berbintang di Bali saat ini rata-rata hanya mencapai 3-4 hari, ada selisih dengan lama tinggal yang dicatat oleh Kementerian Pariwisata.

Sejumlah asumsi berkembang terkait dengan adanya selisih data tersebut antara lain yang menyebut kalau sebagian wisatawan memanfaatkan waktu untuk berwisata ke daerah tetangga Bali seperti Lombok dan sekitarnya. "Atau bisa jadi mereka menginap di vila dalam sisa liburannya di Bali. Ini yang masih kita dalami," ucapnya. (WDY)