Sejarawan : Buleleng Barometer Toleransi di Bali

Sejarawan : Buleleng Barometer Toleransi di Bali

Akademisi Undiksha Singaraja, Dr Made Pageh (antara foto/dgk/bgs/2017)

Singaraja (Antara Bali) - Sejarawan dan akademisi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Bali, Dr I Made Pageh, Mhum menyatakan bahwa Kabupaten Buleleng merupakan barometer toleransi kehidupan beragama di Pulau Dewata sejak ratusan tahun lalu.

"Nilai-nilai toleransi di Buleleng sudah ada sejak Raja Buleleng, Ki Barak Panji Sakti berkuasa sekitar abad ke-16," katanya di Kota Singaraja, Bali, Minggu.

Menurut dia, sangat jarang ditemukan pergesekan antar umat beragama di kabupaten ujung utara Pulau Dewata ini, terlebih karena rasa persaudaraan sudah terpupuk dari nenek moyang masyarakat Buleleng itu sendiri.

Sampai ada istilah "nyama selam" untuk menyebutkan saudara muslim, memiliki makna bahwa semua kalangan masyarakat di Buleleng adalah bersaudara.

Pageh menceritakan, sejarah umat muslim di Buleleng yang tidak dapat dilepaskan dari ekspansi Panji Sakti ke wilayah Pulau Jawa dimana kemudian mengajak ratusan warga Muslim tinggal dan menetap di Buleleng.

"Panji Sakti ketika itu tidak menganggap mereka sebagai musuh tetapi sebagai sahabat dan teman guna memperkuat kerajaan dan kekuatan perang," kata dia sembari menjelaskan Panji Sakti sebagai pendiri Kerajaan Buleleng memberikan wilayah bernama Pegatepan sebagai basis masyarakat muslim yang kini dikenal dengan nama Desa Pegayaman.

 Ia juga berpendapat bahwa roh toleransi di Pulau Dewata memang dimulai dari Buleleng, baru kemudian menyebar ke daerah lain. Nilai toleransi tumbuh bukan baru-baru ini tetapi sudah mendarah daging sejak dulu kala.

  "Oleh karena itu siapapun akan sangat mudah merasakan indahnya kebersamaan dan harga menghargai ketika tinggal di Buleleng. Tidak ada istilah harus berbeda dan bermusuhan karena berbeda agama dan keyakinan," tutur dia.

Ke depan, Pageh berharap generasi muda sebagai penerus pembangunaan dan peradaban dapat mempertahan nilai-nilai toleransi yang ada di Buleleng.

"Berdasarkan hasil penelitian saya ada fenomena banyak anak muda yang belajar agama ke luar Bali kemudian ingin mengubah rasa toleransi yang sudah ada. Mereka merasa paling pintar dan benar masalah agama dan ingin meghilangkan kebiasaan dari orang tua dan leluhurnya, " katanya.

Hal tersebut perlu mendapatkan perhatian karena sangat berbahaya bagi eksistensi kebhinnekaan yang selama ini berjalan begitu indah," katanya. (WDY)