Catatan Redaksi
Prof Gede Sri Darma, D.B.A, prototype generasi muda pejuang yang jujur, intelektual dan option kepada pembangunan masyarakat Bali. Tiga sifat dasar paling dominan dari Sri Darma tersebut menyatu dalam karakter dirinya, sebagai kekuatan progresif menyiapkan anak anak Bali dengan visi 'Move to Global Digital' dengan mendobrak tradisi akademis yang tidak produktif. Sri Darma adalah rector termuda di Indonesia yang pikiran pikiran-pikirannya selalu mencerahkan anak bangsa , sehingga layak menjadi pemimpin Bali masa depan.
Terhitung sejak 2005-2007, dua tahun sudah Prof. Gede Sri Darma, D.B.A selanjutnya cukup ditulis Sri Darma memimpin Universitas Pendidikan Nasional atau lebih dikenal dengan nama Undiknas selaku rektor. Dalam dalam rentang waktu itu, banyak terobosan Sri Darma demi meningkatkan kualitas lembaga pendidikan yang dipimpinnya itu, salah satunya diawali pergantian tiga deputi rektor.
Sejatinya Sri Darma punya hak prerogatif dalam menentukan nama pengganti pejabat deputi rektor, namun tidak digunakannya. Ia tetap memeperhatikan berbagai masukan untuk memilih yang terbaik dari sekumpulan calon baik baik.
Melalui berbagai pertimbangan, akhirnya terpilih pejabat deputi rektor terpantas di antara mereka yang paling pantas. Pelantikannya dilangsungkan pada hari Sabtu, 3 Maret 2007 yang diikuti pula oleh 73 pejabat struktural dan administrasi.
Sri Dharma mengatakan pergantian itu dilakukan bukan karena pejabat lama gagal menjalankan tugas, melainkan untuk memberi nuansa penyegaran bagi karyawan. Semangat kerja baru sangat diperlukan untuk menghadapi persaingan global yang amat ketat di masa depan. Pergantian ini juga sangat diperlukan untuk meng-ajeg-kan Undiknas.
Menjaga citra positif Undiknas di mata masyarakat adalah tugas paling berat bagi civitas akademika dan kunci dalam menjalankan tugas itu hanyalah dengan memberikan pelayanan terbaik bagi mahasiswa dan pengguna lulusan.
Sri Darma yakin seyakin-yakinnya upaya menjaga citra positif Undiknas antara lain dapat dilakukan melalui kerja sama dengan Koperasi Krama Bali (KKB). Kerja sama itu sah setelah ditandatanganinya piagam kesepahaman (MoU) antara Sri Darma dengan Satria Naradha selaku ketua KKB. Peristiwa itu berlangsung pada hari Sabtu, 1 Desember 2007 di pasar oleh-oleh Bali kawasan Kuta.
Dalam MoU tercantum beberapa tujuan pokok kerja sama, antara lain untuk memberikan pencerahan serta pembelajaran bagi mahasiswa Undiknas agar lebih mampu berkontribusi nyata terhadap Bali.
KKB sangat memberikan perhatian dan memiliki komitmen tinggi untuk memajukan Krama Bali. KKB memiliki visi dan misi yang berpihak terhadap kearifan lokal budaya Bali. Jadi sudah sangat tepat kalau Undiknas bersinergi dengan KKB.
Kerja sama ini, menurut Sri Darma dilandasi sebuah harapan bahwa segenap masyarakat Bali semestinya sudah memikirkan pembangunan yang kokoh demi masa depan Bali. Membangun Bali hanya bisa dilakukan dengan cara mencetak sumber daya manusia (SDM) yang handal dan ini dapat dimulai dari kalangan generasi muda.
Selaras dengan pendapat umum, Sri Darma menyatakan generasi muda adalah salah satu tulang punggung bangsa yang semestinya sudah belajar dan memiliki komitmen membangun Bali mulai sejak dini. Generasi muda yang kokoh dan bermoral bisa dibentuk melalui lembaga pendidikan, yang antara lain berfungsi sebagai salah satu wadah dan barometer kualitas SDM.
Di sisi lain, setahun setelah pelantikan deputi rektor, bulan oktober 2008, Program Pascasarjana Magister Manajemen (MM) Undiknas sukses meraih akreditasi B dari BAN PT dengan nilai 4,1 dan kesuksesan ini sekalgus memperlihatkan selain MM Unud, telah terakreditasi pula MM Undiknas.
Perjuangan meraih nilai itu terus menguras tenaga dan pikiran dan dengan berbekal predikat prestisius tersebut, Sri Darma memasang ancang-ancang membuka program S-3 Manajemen. Jika sampai disetujui Dikti, maka Undiknas akan memiliki program S-3 manajemen yang pertama di Bali.
"Saya sangat yakin mampu menembus program ini, karena sudah memenuhi persyaratan yang diminta Dikti," ujar Sri Darma kala itu.
Keyakinan Sri Darma dilandasi alasan kuat, kalau Dikti hanya mensyaratkan cukup punya dua guru besar serta empat doktor untuk membuka Program S-3 Manajemen. Jelas syarat itu sudah terlampaui, mengingat Undiknas memiliki empat guru besar dan sembilan doktor. Meskipun patut disyukuri karena nilai itu merupakan hasil akreditasi pertama, tapi Sri Darma masih belum puas 100%, sebab target yang dipasangnya adalah nilai A.
Guna mencapai target tersebut, Sri Darma berjanji akan menggenjot MM Undiknas sebelum lima tahun yang akan datang dengan mempertajam keterlibatan mahasiswa dalam penelitian yang dilakukan para dosen dan menembus jurnal jurnal internasional, sehingga mau tidak mau konsekwensinya berdampak pada kurikulum MM Undiknas yang setiap saat harus disempurnakan supaya kompetisi lulusannya sesuai dengan tuntutan dunia kerja.
Setelah program MM, Rektor Sri Darma juga ingin mengajukan akreditasi untuk program Magister Administrasi Publik (MAP). Program ini baru dibuka sejak 2007, jika MM diperuntukkan bagi mahasiswa yang ingin menjadi manajer atau pemimpin perusahaan, maka MAP lebih yang ingin menjadi pejabat public. Menyelinap pula asa membahana di dada Sri Darma untuk membuka Magister Hukum (MH) dan ijin pembukaannya hanya tinggal menunggu persetujuan Dikti.
Segala kerja keras yang sudah diperjuangkan Sri Darma demi memajukan Undiknas, terbayar dengan terpilihnya kembali menjadi Rektor Undiknas University periode 2009 sampai 2014 dalam rapat senat Universitas.Pemilihan Rektor kala itu berjalan efektif dan efisien, karena dari empat kandidat yang memenuhi persyaratan bakal calon rektor, tiga lainnya mengundurkan diri.
Rektor terpilih akan dilantik 6 Maret 2009, Di masa jabatannya yang kedua ini, Rektor Sri Darma bertekad meningkatkan daya saing lulusan Undiknas University.
Sri Darma mengatakan, banyak SDM unggul di Bali dan Indonesia yang kini bekerja di luar Negeri. Fenomena ini menandakan adanya kelemahan system dan daya saing pendidikan di dalam Negeri yang belum menghargai SDM unggul dan tidak menghargai proses intelektual.
Undiknas University akan menjawab tantangan tersebut dengan cara tidak sekedar meluluskan mahasiswa, melainkan mencetak sarjana berkualitas dan berdaya saing tinggi. Hal ini sesuai pula dengan visi baru Undiknas yaitu ‘Move to Global and Digital’.
Selain mengemban tangggung jawab sebagai Rektor Undiknas University, Sri Darma juga diberikan kepercayaan menjadi Ketua Aptisi (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta) Bali yang secara rutin mengadakan pertemuan guna membahas berbagai terobosan untuk memajukan dunia pendidikan terutama perguruan tinggi.
Tepat pada 22 Januari 2011 diadakan penggabungan antara rapat rutin Aptisi dengan rapat Forum Perguruan Tinggi (PT). Rapat yang dilaksanakan di kampus Universitas Tabanan ini dihadiri para pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di seluruh Bali. Para pimpinan PTN dan PTS berbagi pandangan mengenai perlunya revolusi pendidikan dalam menghadapi Perguruan Tinggi (PT) asing yang segera hadir di Indonesia.
Tidak mau ketinggalan, Sri Darma yang didaulat sebagai moderator dalam rapat itu juga menuangkan sedikit pemikirannya sebagai berikut: Semestinya Bali bisa sebagai motor penggerak untuk melakukan revolusi pendidikan.Pikiran pragmatis sekolah hanya untuk ijazah atau kuliah hanya untuk gelar akademik sebaiknya dihilangkan. Pendidikan tidak hanya paper minded, tetapi perlu disadari bahwa proses pendidikan sebagai sebuah ekskalator pengetahuan.
Seharusnya proses pendidikan dimulai sejak pagi hingga sore hari, tidak seperti sekarang sekolah hanya beberapa jam, kemudian dunia pendidikan disalahkan jika terjadi sesuatu kepada anak. Padahal anak didik banyak menghabiskan waktu di lingkungannya. (*)
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2016
Prof Gede Sri Darma, D.B.A, prototype generasi muda pejuang yang jujur, intelektual dan option kepada pembangunan masyarakat Bali. Tiga sifat dasar paling dominan dari Sri Darma tersebut menyatu dalam karakter dirinya, sebagai kekuatan progresif menyiapkan anak anak Bali dengan visi 'Move to Global Digital' dengan mendobrak tradisi akademis yang tidak produktif. Sri Darma adalah rector termuda di Indonesia yang pikiran pikiran-pikirannya selalu mencerahkan anak bangsa , sehingga layak menjadi pemimpin Bali masa depan.
Terhitung sejak 2005-2007, dua tahun sudah Prof. Gede Sri Darma, D.B.A selanjutnya cukup ditulis Sri Darma memimpin Universitas Pendidikan Nasional atau lebih dikenal dengan nama Undiknas selaku rektor. Dalam dalam rentang waktu itu, banyak terobosan Sri Darma demi meningkatkan kualitas lembaga pendidikan yang dipimpinnya itu, salah satunya diawali pergantian tiga deputi rektor.
Sejatinya Sri Darma punya hak prerogatif dalam menentukan nama pengganti pejabat deputi rektor, namun tidak digunakannya. Ia tetap memeperhatikan berbagai masukan untuk memilih yang terbaik dari sekumpulan calon baik baik.
Melalui berbagai pertimbangan, akhirnya terpilih pejabat deputi rektor terpantas di antara mereka yang paling pantas. Pelantikannya dilangsungkan pada hari Sabtu, 3 Maret 2007 yang diikuti pula oleh 73 pejabat struktural dan administrasi.
Sri Dharma mengatakan pergantian itu dilakukan bukan karena pejabat lama gagal menjalankan tugas, melainkan untuk memberi nuansa penyegaran bagi karyawan. Semangat kerja baru sangat diperlukan untuk menghadapi persaingan global yang amat ketat di masa depan. Pergantian ini juga sangat diperlukan untuk meng-ajeg-kan Undiknas.
Menjaga citra positif Undiknas di mata masyarakat adalah tugas paling berat bagi civitas akademika dan kunci dalam menjalankan tugas itu hanyalah dengan memberikan pelayanan terbaik bagi mahasiswa dan pengguna lulusan.
Sri Darma yakin seyakin-yakinnya upaya menjaga citra positif Undiknas antara lain dapat dilakukan melalui kerja sama dengan Koperasi Krama Bali (KKB). Kerja sama itu sah setelah ditandatanganinya piagam kesepahaman (MoU) antara Sri Darma dengan Satria Naradha selaku ketua KKB. Peristiwa itu berlangsung pada hari Sabtu, 1 Desember 2007 di pasar oleh-oleh Bali kawasan Kuta.
Dalam MoU tercantum beberapa tujuan pokok kerja sama, antara lain untuk memberikan pencerahan serta pembelajaran bagi mahasiswa Undiknas agar lebih mampu berkontribusi nyata terhadap Bali.
KKB sangat memberikan perhatian dan memiliki komitmen tinggi untuk memajukan Krama Bali. KKB memiliki visi dan misi yang berpihak terhadap kearifan lokal budaya Bali. Jadi sudah sangat tepat kalau Undiknas bersinergi dengan KKB.
Kerja sama ini, menurut Sri Darma dilandasi sebuah harapan bahwa segenap masyarakat Bali semestinya sudah memikirkan pembangunan yang kokoh demi masa depan Bali. Membangun Bali hanya bisa dilakukan dengan cara mencetak sumber daya manusia (SDM) yang handal dan ini dapat dimulai dari kalangan generasi muda.
Selaras dengan pendapat umum, Sri Darma menyatakan generasi muda adalah salah satu tulang punggung bangsa yang semestinya sudah belajar dan memiliki komitmen membangun Bali mulai sejak dini. Generasi muda yang kokoh dan bermoral bisa dibentuk melalui lembaga pendidikan, yang antara lain berfungsi sebagai salah satu wadah dan barometer kualitas SDM.
Di sisi lain, setahun setelah pelantikan deputi rektor, bulan oktober 2008, Program Pascasarjana Magister Manajemen (MM) Undiknas sukses meraih akreditasi B dari BAN PT dengan nilai 4,1 dan kesuksesan ini sekalgus memperlihatkan selain MM Unud, telah terakreditasi pula MM Undiknas.
Perjuangan meraih nilai itu terus menguras tenaga dan pikiran dan dengan berbekal predikat prestisius tersebut, Sri Darma memasang ancang-ancang membuka program S-3 Manajemen. Jika sampai disetujui Dikti, maka Undiknas akan memiliki program S-3 manajemen yang pertama di Bali.
"Saya sangat yakin mampu menembus program ini, karena sudah memenuhi persyaratan yang diminta Dikti," ujar Sri Darma kala itu.
Keyakinan Sri Darma dilandasi alasan kuat, kalau Dikti hanya mensyaratkan cukup punya dua guru besar serta empat doktor untuk membuka Program S-3 Manajemen. Jelas syarat itu sudah terlampaui, mengingat Undiknas memiliki empat guru besar dan sembilan doktor. Meskipun patut disyukuri karena nilai itu merupakan hasil akreditasi pertama, tapi Sri Darma masih belum puas 100%, sebab target yang dipasangnya adalah nilai A.
Guna mencapai target tersebut, Sri Darma berjanji akan menggenjot MM Undiknas sebelum lima tahun yang akan datang dengan mempertajam keterlibatan mahasiswa dalam penelitian yang dilakukan para dosen dan menembus jurnal jurnal internasional, sehingga mau tidak mau konsekwensinya berdampak pada kurikulum MM Undiknas yang setiap saat harus disempurnakan supaya kompetisi lulusannya sesuai dengan tuntutan dunia kerja.
Setelah program MM, Rektor Sri Darma juga ingin mengajukan akreditasi untuk program Magister Administrasi Publik (MAP). Program ini baru dibuka sejak 2007, jika MM diperuntukkan bagi mahasiswa yang ingin menjadi manajer atau pemimpin perusahaan, maka MAP lebih yang ingin menjadi pejabat public. Menyelinap pula asa membahana di dada Sri Darma untuk membuka Magister Hukum (MH) dan ijin pembukaannya hanya tinggal menunggu persetujuan Dikti.
Segala kerja keras yang sudah diperjuangkan Sri Darma demi memajukan Undiknas, terbayar dengan terpilihnya kembali menjadi Rektor Undiknas University periode 2009 sampai 2014 dalam rapat senat Universitas.Pemilihan Rektor kala itu berjalan efektif dan efisien, karena dari empat kandidat yang memenuhi persyaratan bakal calon rektor, tiga lainnya mengundurkan diri.
Rektor terpilih akan dilantik 6 Maret 2009, Di masa jabatannya yang kedua ini, Rektor Sri Darma bertekad meningkatkan daya saing lulusan Undiknas University.
Sri Darma mengatakan, banyak SDM unggul di Bali dan Indonesia yang kini bekerja di luar Negeri. Fenomena ini menandakan adanya kelemahan system dan daya saing pendidikan di dalam Negeri yang belum menghargai SDM unggul dan tidak menghargai proses intelektual.
Undiknas University akan menjawab tantangan tersebut dengan cara tidak sekedar meluluskan mahasiswa, melainkan mencetak sarjana berkualitas dan berdaya saing tinggi. Hal ini sesuai pula dengan visi baru Undiknas yaitu ‘Move to Global and Digital’.
Selain mengemban tangggung jawab sebagai Rektor Undiknas University, Sri Darma juga diberikan kepercayaan menjadi Ketua Aptisi (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta) Bali yang secara rutin mengadakan pertemuan guna membahas berbagai terobosan untuk memajukan dunia pendidikan terutama perguruan tinggi.
Tepat pada 22 Januari 2011 diadakan penggabungan antara rapat rutin Aptisi dengan rapat Forum Perguruan Tinggi (PT). Rapat yang dilaksanakan di kampus Universitas Tabanan ini dihadiri para pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di seluruh Bali. Para pimpinan PTN dan PTS berbagi pandangan mengenai perlunya revolusi pendidikan dalam menghadapi Perguruan Tinggi (PT) asing yang segera hadir di Indonesia.
Tidak mau ketinggalan, Sri Darma yang didaulat sebagai moderator dalam rapat itu juga menuangkan sedikit pemikirannya sebagai berikut: Semestinya Bali bisa sebagai motor penggerak untuk melakukan revolusi pendidikan.Pikiran pragmatis sekolah hanya untuk ijazah atau kuliah hanya untuk gelar akademik sebaiknya dihilangkan. Pendidikan tidak hanya paper minded, tetapi perlu disadari bahwa proses pendidikan sebagai sebuah ekskalator pengetahuan.
Seharusnya proses pendidikan dimulai sejak pagi hingga sore hari, tidak seperti sekarang sekolah hanya beberapa jam, kemudian dunia pendidikan disalahkan jika terjadi sesuatu kepada anak. Padahal anak didik banyak menghabiskan waktu di lingkungannya. (*)
Editor : I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2016