Denpasar (Antara Bali) - Ekspor kerajinan kayu berupa patung dari Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Sedana Santhi, Kabupaten Gianyar, Bali, ke beberapa negara di Eropa mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

"Ekspor produk kerajinan seni patung ke Eropa mengalami peningkatan setiap bulannya. Misalnya pada Juli 2010 tercatat sebesar Rp75 juta. Begitu juga hingga pertengahan Agustus 2010 pesanan sudah mencapai Rp60 juta," kata pimpinan KUBE Sedana Santhi I Wayan Sumarata di Gianyar, Kamis.

Ditemui di sela-sela kunjungan rombongan Humas Pemprov Bali itu, ia mengatakan, kerajinan yang dibuat bersama kelompoknya sangat diminati di pasar internasional, seperti Jerman dan Belanda.

Ia menuturkan, KUBE Sedana Santhi yang dipimpinnya rutin mengekspor produk kerajinannya ke Eropa. Volume ekspor tersebut bahkan mengalami peningkatan pascaledakan bom Bali I pada 12 Oktober 2002.

"Itu terjadi lantaran meningkatnya kurs dolar AS terhadap rupiah, sehingga dengan sedikit dolar wisatawan asing dapat berbelanja lebih banyak. Akibat hal tersebut, pengrajin sempat kewalahan memenuhi permintaan," katanya.

Setelah kondisi kembali normal, kata dia, permintaan patung kayu juga tetap lancar. Meskipun pesanan tidak datang setiap bulan.

"Kami tetap mendapat pesanan yang nilainya berkisar antara Rp60-Rp75 juta per bulan. Itu untuk sekali pesan," katanya.

Dikatakan, di luar pasar Eropa, masih ada pasar dalam negeri yang cukup menggembirakan, sehingga rata-rata penjualan setiap bulan berkisar antara Rp10 hingga Rp15 juta.

"Kami sangat bersyukur atas anugerah tersebut. Mudah-mudahan pesanan dari luar negeri akan terus meningkat, sehingga kelompok kami terus berkarya dan menyejahterakan keluarganya," ucapnya.

Kesuksesan KUBE Sedana Santhi merambah pasar ekspor ini, menurut Sumerata, tidak terlepas dari peran pemerintah untuk memberikan dorongan, baik pelatihan maupun peralatan keperluan usaha tersebut.

Selama ini, kata dia, Pemprov Bali dan Pemkab Gianyar berperan banyak dalam memberikan pelatihan manajemen, ketrampilan mengukir dan membatik kayu, memberikan bantuan peralatan dan pemasaran.

"Karena itu kami tetap berharap bantuan diberikan setiap tahun. Sehingga bisa terus maju," ujarnya.

Ia mengatakan, satu-satunya kendala yang dihadapi adalah pihaknya belum mampu memenuhi standar kekeringan kayu yang ditetapkan konsumen.

Untuk itu, pada tahun 2009 yang lalu pihaknya telah mendapat bantuan satu unit mesin oven (pengering) dari Disperindag Gianyar dan baru dapat beroperasi Juli 2010 karena kendala saluran listrik.

"Sejak dapat bantuan mesin oven tersebut sempat tidak bisa digunakan, karena pasokan daya listrik," katanya.(*)

Editor: Masuki
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarabali.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar