Asisten Administrasi Pemerintahan Setda Kota Denpasar Ketut Mister di Denpasar, Selasa, mengatakan menyambut baik sosialisasi "Gema Cermat" ini karena pengobatan sendiri oleh masyarakat (swamedikasi) masih cukup banyak terjadi di Kota Denpasar.
Jika dilakukan dengan benar, kata dia, tentunya dapat mendukung upaya pembangunan kesehatan oleh pemerintah yang dalam hal penghematan pembiayaan sektor obat. Namun, kenyataannya swamedikasi yang dilakukan oleh masyarakat cenderung dilakukan secara tidak tepat serta tanpa informasi yang memadai.
Tentunya keadaan tersebut sangat mengkhawatirkan, disamping tujuan pengobatan tidak tercapai, selain itu juga akan menimbulkan masalah kesehatan yang serius terutama terjadi resistensi obat dengan segala konsekwensinya.
"Saya berharap dinas terkait dan organisasi profesi di bidang kesehatan memiliki peran penting untuk selalu menginformasikan tentang swamedikasi yang benar," ucapnya.
Kepala Sub Direktorat Analisis Farmakoekonomi Kementerian Kesehatan Dara Amelia mengatakan sesuai dengan prioritas agenda Nawacita, pemerintah telah mengarahkan pembangunan di periode 2015 sampai 2019 untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui kualitas pendidikan, kesejahteraan, dan kesehatan.
Upaya pemerintah dalam meningkatkan kesehatan diwujudkan melalui program Indonesia sehat, dimana promotif dan preventif merupakan pilar utama upaya kesehatan. Kegiatan ini harus didukung lintas sektor serta dilakukan dalam berbagai aspek pelayanan kesehatan termasuk dalam penggunaan obat.
"Dengan dipilihnya Denpasar sebagai percontohan gerakan sosialisasi Gema Cermat di wilayah Provinsi Bali yang menyasar masyarakat, kader posyandu, serta pemangku kepentingan yang ada, diharapkan dapat menjadi contoh yang baik atau resprektif bagi kabupaten/kota yang lain di Provinsi Bali maupun di seluruh Indonesia," katanya.
Sementara Kepala Dinas Kesehjatan Kota Denpasar dr. Luh Putu Sri Armini mengatakan bahwa tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya penggunaan obat secara benar.
Selain itu juga untuk meningkatakan kemandiriian dan perubahan prilaku masyarakat dalam memilih, mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat secara benar.
Kegiatan sosialisasi tersebut diikuti 100 peserta meliputi apoteker sebagai (agen perubahan/agent of change), wakil organisasi profesi kesehatan, PKK kecamatan, sekaa teruna (ST), kader posyandu, dan lain-lain.
Dalam kegiatan sosialisasi itu menghadirkan narasumber dari Rumah Sakit Sutomo Surabaya yang diwakili dr. Hari Paraton, Sp.OG (K) dengan materi "Peran Masyarakat dalam Penggunaan Antibiotik secara Bijak" dan Kasubdit Analisis Farmakoekonomi pada Kementerian Kesehatan RI Dra. Dara Amelia Apt MM. (WDY)
Pewarta: Pewarta: I Komang Suparta: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026