Denpasar (Antara Bali) - Gubernur Bali Made Mangku Pastika menginginkan agar seni yang dibawakan oleh para seniman dari Pulau Dewata dapat ditampilkan lebih berkualitas sehingga dapat menyejahterakan para pelakunya.

"Kita hidup dalam kesenian, ini yang kita jual pada dunia pariwisata yang berkembang di Bali, inilah kehidupan dan penghidupan kita. Sehingga saya harapkan terus ada peningkatan kreativitas dan profesionalitas para seniman dan pelaku seni," kata Pastika saat membuka sarasehan terkait Pesta Kesenian Bali ke-38, di Denpasar, Senin.

Menurut dia, harus ada fasilitas pendukung seperti efek pencahayaan, pengaturan tata suara, serta manajemen panggung sehingga betul-betul menjadi tontonan yang berkualitas.

"Itu yang kita harap-harapkan sebenarnya. Jangan asal jadi, sudah seharusnya kita menunjukkan kualitas agar kedepan seni itu benar-benar bisa menjadi penghidupan yang menyejahterakan pelakunya," ujarnya.

Pastika juga menekankan pentingnya wawasan para pelaku seni agar bisa mengimbangi perkembangan yang terjadi, bahkan menurutnya para pelaku seni perlu mempelajari kewirausahaan terutama terkait kompetensi yang dimiliki agar memiliki ciri khas, yang bisa dipatenkan menjadi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

"Saya berharap pemahaman enterpreneurship (kewirausahaan) juga ditanamkan dalam berkesenian. Dulu kita tidak pernah memikirkan HAKI, seniman Bali suka karyanya ditiru orang lain, dibikin tapi tidak didaftarkan HAKI, dan akhirnya diproduksi dan dipasarkan diluar negeri, serta mereka yang mengklaim. Saat kita memproduksi lagi, kita yang ditangkap karena melanggar HAKI," ujarnya.

Ia pun menyatakan besarnya dukungan Pemprov Bali terhadap pelaksanaan seni di Bali yang semakin besar, seperti pelaksanaan PKB sebagai ajang pelestarian dan penggalian seni baru, yang sudah dilaksanakan dari dulu namun terus didukung dengan upaya peningkatan kualitasnya.

Berikutnya pelaksanaan pagelaran baru yang tak kalah besar yakni Pagelaran Bali Mahalango, pameran pembangunan yang didalamnya juga terdapat nilai kesenian, serta Gelar Seni Akhir Pekan (GSAP) yang dilaksanakan sepanjang tahun.

"Kami ingin memberikan ruang seluas-luasnya bagi budayawan dan seniman Bali untuk berkreasi dan tampil mementaskan karyanya. Jika hanya berkreasi tapi tidak tampil, itu akan kurang berguna. Kurang berguna bagi dirinya maupun kurang berguna bagi masyarakat," ucapnya.

Oleh karena itu, Institut Seni Indonesia Denpasar dan UPT Taman Budaya disatukan, agar Taman Budaya bisa menjadi laboratorium praktik bagi mahasiswa dan dosennya, sehingga tidak ada waktu yang lenggang, semua bisa berkreasi sesuai titik berat masing-masing.

Sementara itu, Koordinator Sarasehan yang juga Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Wilayah Kerja Bali NTB, dan NTT Made Darma Suteja, menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan PKB, karena dinilai sebagai satu langkah sistemik Pemprov bersama seluruh elemen masyarakat dalam memajukan kebudayaan dan kesenian daerah.

PKB ke-38 yang mengusung tema kearifan lokal "Karang Awak" diharapkan mampu merefleksikan keseimbangan budaya, ekonomi, teknologi menuju asas peningkatan kualitas kehidupan, penghidupan, dan kompetensi diri yang berfokus pada relasi budaya, kehidupan dan penghidupan.

Sarasehan ini menampilkan pembicara kunci yaitu Dirjen Kebudayaan Hilamr Farid yang dipandu oleh Rektor ISI Made Arya Sugiartha dan panel diskusi yang menampilkan Narasumber AA Rai Arma, Prof Dr I Wayan Ramantha, I Nyoman Wija dan dipandu oleh I Wayan Juniartha. (WDY)

Pewarta: Pewarta: Ni Luh Rhismawati
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026