"Turis asing yang datang berlibur ke Bali bisa saja bertambah banyak, namun penerimaan VoA berkurang akibat tidak semua pelancong yang melakukan perjalanan wisata ke pulau ini membayar, karena adanya program bebas visa yang diterapkan Indonesia," kata pengamat pariwista Made Sudana di Denpasar, Kamis.
Ia menyebutkan, sesuai catatan Bank Indonesia, penerimaan VoA dari turis asing yang datang ke Bali awal tahun rata-rata 10 juta dolar AS per bulan, kemudian melorot menjadi 4,7 juta September 2015 turun lagi menjadi hanya 3,6 juta Oktober dan pada November 2015 hanya 2,2 juta dolar sebagai dampak dari penerapan bebas visa.
Penerimaan dari sektor pariwisata tersebut, secara keseluruhnya masih cukup tinggi yakni 72,1 juta dolar sepala periode Januari-November 2015, walau pemerintah menerapkan bebas visa kepada sejumlah negara sahabat, karena akan mampu meningkatkan roda perekonomian masyarakat.
Penerimaan yang dipungut dari wisatawan asing yang baru menginjakkan kakinya di pintu masuk Pulau Bali yakni Bandara Ngurah Rai maupun pelabuhan Benoa sebanyak 1.975.194 orang dari jumlah turis asing saat itu sebanyak 3.631.190 selama Januari- November 2015, jadi tidak semua turis asing dipunguti VoA saat tiba di daerah ini.
Dalam laporan kajian ekonomi regional Bali hingga September 2015 disebutkan bahwa penerimaan visa kunjungan dari orang asing yang berpelesiran ke Pulau Dewata itu cukup tinggi, karena penerimaan rata-rata 6,5 juta dolar per bulan.
Ia menyebutkan, besarnya penerimaan dari turis asing yang melakukan perjalanan wisata ke Bali, tentu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat yang selama ini masih mengandalkan dari sektor pariwisata, industri kecil dan pertanian.
Jumlah kunjungan turis ke Bali bertambah banyak sesuai pertumbuhan pariwisata dunia. Pulau Dewata masih menjadi pavorit dari masyarakat Australia dan Tiongkok karena terbukti turis kedua negara itu berlomba datang berlibur ke daerah seribu pura ini. (WDY)
Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.