Denpasar (Antara Bali) - Guru Besar Universitas Udayana Prof Dr I Wayan Windia berpendapat harga berbagai hasil pertanian di Bali sangat ditentukan oleh pembeli, terutama pengepul sehingga cenderung rendah dan merugikan petani.

"Dalam memasarkan hasil pertanian 55 persen ditentukan oleh pengepul, yang kemudian menjual kembali ke konsumen dengan meraih keuntungan yang tinggi," kata Prof Windia yang juga Ketua Grup Riset Sistem Subak Universitas Udayana di Denpasar, Rabu.

Ia mengatakan, petani yang selalu dirugikan dalam pemasaran hasil produksi, pada sisi lain harus mengeluarkan biaya produksi yang cukup tinggi, karena subsidi yang dinikmati petani cenderung semakin kecil.

"Demikian pula pemerintah yang mudah sekali melakukan kebijakan impor bahan pangan, sehingga pada gilirannya akan merugikan petani," ujar Prof Windia.

Ia mengingatkan, jika pemerintah ingin melestarikan subak, organisasi pengairan tradisional bidang pertanian, sektor pertanian harus mendapatkan subsidi dan proteksi yang sepadan.

Subsidi dan proteksi merupakan dua hal yang sangat penting, untuk "mengobati" penyakit yang pada umumnya diderita oleh sektor pertanian yakni risiko dan ketidakpastian harga.

Oleh sebab itu peranan pemerintah sangat dinantikan karena memiliki peranan untuk melakukan regulasi, dan bahkan bisa membentuk pasar. Misalnya pemerintah bisa saja membuat perda tentang subak dan pertanian abadi, membuat perda tentang keharusan pihak sektor pariwisata membeli produksi pertanian setempat. (ADT)


Pewarta: Oleh I Ketut Sutika
: I Nyoman Aditya T I

COPYRIGHT © ANTARA 2026