Denpasar (Antara Bali) - Sebanyak 153 dari 170 pasien yang berkonsultasi mengenai penyakit HIV/AIDS ke Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar, dalam lima bulan terakhir divonis mengidap virus mematikan tersebut.

"Rata-rata setiap bulan sekitar 19 hingga 37 pasien datang ke kami dan mengaku kerap berganti pasangan sehingga tertular penyakit mematikan itu," kata Kepala Seksi Rawat Inap Penyakit Menular RUSP Sanglah dr Ida Ayu Miswaryati kepada wartawan di Denpasar, Senin.

Ia mengatakan, jumlah pasien yang melakukan konseling mengalami peningkatan dibanding tahun lalu, namun korban yang meninggal relatif menurun. Pasien HIV/AIDS yang meninggal umummnya masih berusia produktif yakni antara usia 20 tahun hingga 40 tahun.

Menurut dia, semua pasien yang berkonsultasi mengakui menjalani kehidupan seks dengan berganti-ganti pasangan atau berhubungan dengan lebih dari satu orang.

"Sekitar 106 orang melakukan aktivitas seksual dengan lebih dari satu orang dan selebihnya pasien tertular karena pasangan mereka lebih dulu mengidap penyakit HIV/AIDS," ucapnya.

Yang mencengangkan, menurut dia, para korban meninggal didominasi kaum pria. Data di RSUP Sanglah sepanjang lima bulan belakangan ini menunjukkan pada Januari sembilan lelaki meninggal dunia, Februari lima, Maret lima orang, April lima orang dan Mei sebanyak tujuh orang.

Saat ini masih ada anggapan bahwa penderita HIV/AIDS dapat menularkan penyakitnya ke orang lain sehingga mereka dikucilkan. Akibatnya para penderitanya merasa terbuang dari lingkuangannya sehingga mereka semakin merasa tidak berguna menjalani hidup.

"Padahal penyakit ini hanya bisa ditularkan lewat kontak seksual dan darah," ujarnya.

Demikian pula setelah empat jam meninggal, virus tersebut sudah ikut mati alias tidak menular. Hanya saja memang perlu kehati-hatian dalam merawat atau mendampingi penderita HIV/AIDS.

Ia mengingatkan bahwa para penderita tidak sepantasnya dikucilkan, melainkan justru diberi keyakinan dan dorongan untuk bisa sembuh karena pada dasarnya, meski virus penyakit ini tidak bisa mati, namum penyebarannya bisa ditekan hingga tidak menular ke orang lain, dengan cara mengikuti konseling dan pengobatan.

Masyarakat, menurut dia, sudah saatnya membuka diri dan melakukan tindakan pencegahan seperti memeriksakan diri sejak dini kepada dokter atau melakukan konseling sehingga bisa dilakukan penanganan.

"Hindari pergaulan seks menyimpang dengan melakukan aktivitas pada satu pasangan saja," kata dia. (*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026