Tabanan, Bali (ANTARA) - Kementerian Sosial (Kemensos) melalui Sentra Mahatmiya Bali membekali penyandang tunanetra di Pulau Dewata keterampilan pijat untuk mendukung kesejahteraan sosial dan ekonomi mereka.      

“Rata-rata pelatihan selama empat bulan,” kata Kepala Sentra Mahatmiya Bali Sumarno Sri Wibowo di Desa Banjar Anyar, Kabupaten Tabanan, Bali, Senin.

Saat ini, ada tiga orang peserta pelatihan yang belajar teknik memijat di sentra itu dengan dua orang instruktur dari Kementerian Sosial.  

Tahun lalu, ada delapan peserta penyandang tunanetra yang menimba keterampilan di tempat itu yang berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos tersebut.

Usai menjalani pelatihan, mereka kemudian melanjutkan magang selama periode tertentu agar lebih siap diserap dunia usaha.

Sumarno menambahkan beberapa "alumnus" pelatihan itu ada yang diserap perhotelan hingga mendirikan usaha sendiri karena setelah melalui pelatihan, peserta mendapatkan sertifikat keahlian dari Kemensos.  

“Ada salah satu alumni kami itu bahkan memiliki tarif satu juta rupiah per jam yang direkrut oleh salah satu hotel di Kabupaten Badung,” ucapnya.

Salah satu instruktur, Yudi Hamzah Hermawan menjelaskan teknik yang diajarkan adalah pijat kebugaran dan mereka langsung praktik melakukan pemijatan dengan memijat di titik tertentu.

“Pelatihan ini gratis dan biasanya durasi pelatihan menyesuaikan peserta. Kalau dia cepat memahami, maka bisa cepat juga untuk lanjut magang,” ucapnya.

Sementara itu, salah satu peserta Komang Arta dari Kabupaten Buleleng, Bali mengaku sudah hampir empat bulan mengikuti pelatihan, setelah difasilitasi Dinas Sosial Buleleng.

Ia pun terbantu mengikuti pelatihan itu karena selain gratis, juga mendapat asrama sekaligus tempat kebutuhan konsumsi.

“Pelatihan setiap Senin sampai Kamis,” ujar Komang yang sempat bekerja sebagai pemasaran namun perlahan sejak 2018 mengalami tunanetra 100 persen karena faktor genetika.

Sentra Mahatmiya di Tabanan saat ini memberikan pelatihan kepada 13 orang termasuk bidang pemijatan, komputer, barista dan menjahit.

Selain penyandang tunanetra, sebelumnya lembaga itu juga memiliki peserta anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari terpidana kasus terorisme yang saat ini sudah kembali ke asalnya di Jember, Jawa Timur, warga lanjut usia, orang dengan HIV dan narkotika hingga gangguan kejiwaan.

 



Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor : Widodo Suyamto Jusuf

COPYRIGHT © ANTARA 2026