Denpasar (ANTARA) - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali menegaskan akomodasi yang menjual paket menginap saat Hari Suci Nyepi bukan untuk mempromosikan hari suci itu.
“Beberapa hotel ya mereka mengeluarkan kan paket silence day tapi ini bukannya untuk Nyepi-nya dipromosikan,” kata Wakil Ketua PHRI Bali I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya di Denpasar, Minggu.
Hal ini disampaikannya merespon larangan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali agar pelaku usaha jasa akomodasi tidak mempromosikan kegiatan usaha mengatasnamakan Hari Suci Nyepi yang akan jatuh pada 19 Maret 2026.
PHRI Bali meluruskan bahwa selama ini tidak ada wisatawan terutama wisatawan mancanegara yang sengaja datang ke Bali untuk mengikuti Nyepi.
Mereka cenderung terlanjur berwisata dalam waktu yang panjang, sehingga ketika Nyepi para pelaku usaha akomodasi memberi penawaran menginap dua malam dengan paket-paket tertentu yang membuat wisatawan tidak bingung ketika harus 24 jam penuh di dalam hotel.
“Mereka tidak sengaja datang saat Hari Nyepi, kebetulan mereka tinggal di sini 2 minggu kemudian ada Nyepi, bahkan ada banyak yang menghindari sampai pindah ke tempat lain seperti Gili Trawangan, Labuan Bajo, dan Yogyakarta,” ujarnya.
Biasanya dari laporan anggota pelaku usaha, saat Hari Suci Nyepi justru hotel lebih dominan diisi pengunjung domestik, mereka adalah masyarakat yang tinggal di Bali namun tidak menjalankan Catur Brata Penyepian.
“Biasanya yang mereka (pelaku usaha) jual itu kan ke orang-orang yang tinggal di Bali yang tidak merayakan Nyepi, ya mereka dianjurkan menginap di hotel sehingga tidak mengganggu nanti di luar, kan lebih bagus,” kata dia.
PHRI Bali ingin menunjukkan bahwa Hari Suci Nyepi tidak berpengaruh pada kunjungan wisman, justru wisman kerap kecewa karena waktu liburnya tidak dapat digunakan untuk beraktivitas di luar hotel.
Sehingga, munculnya paket Nyepi oleh pelaku usaha bukan untuk memanfaatkan hari suci demi menarik kunjungan ke Bali.
Rai sendiri melihat apabila memang pelaku usaha ingin memanfaatkan momentum hari suci bukan hal yang buruk juga, namun perlu dipastikan pelaku usaha tersebut mematuhi konsep Catur Brata Penyepian.
Termasuk memberikan paket atau edukasi kepada wisatawannya, sehingga pesan Hari Suci Nyepi sampai dan wisman tidak merasa kecewa karena tidak dapat meninggalkan hotel selama 24 jam.
“Kalau ada yang berkeinginan untuk menginap pada saat Hari Nyepi itu kan jadi lebih peduli lagi kalau Catur Brata Nyepi harus dilakukan, dikenalkan bahwa ini bagus untuk kesempatan introspeksi diri, tidak ada masalah yang penting memenuhi aturan-aturan yang dikeluarkan Majelis Desa Adat,” kata Rai berpendapat.
