Denpasar (Antara Bali) - Pria bertubuh tegap berkulit langsat itu terlihat santai mengenakan baju batik warna krem kombinasi celana hitam yang senantiasa ramah dengan lawan bicaranya.
Sesekali senyum menghiasi bibir pria yang sisiran rambutnya model kesamping cukup rapi, memperlihatkan kerutan dahi sosok yang sudah banyak makan "asam-garam" dalam dunia perpolitikan.
Drs Anak Agung Ngurah Puspayoga (48), pria berdarah biru kelahiran Puri Satria, Denpasar 7 Juli 1965 sejak remaja, memang sudah berkecimpung dalam politik mengikuti sepak terjang ayahnya Cokorda Bagus Sayoga (alm), seorang tokoh partai PNI di Bali yang kini menjadi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) Bali.
Suami dari Nyonya I.G.A Bintang Darmawati itu mengorbankan pendidikan perguruan tinggi di luar negeri hanya untuk mengabdikan diri di partai, karena tahun 1984, atau 30 tahun yang silam kala itu tidak ada yang mau dan berani menjadi pengurus partai berlambang kepala banteng.
Puspayoga setamat dari SMAN 1 Denpasar langsung berangkat ke Australia untuk mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan di negara Kangguru, namun cita-citanya terpaksa dikorbankan demi mengabdikan diri kepada partai demi kepentingan rakyat banyak.
Kondisi partai saat itu sangat berbeda dengan sekarang, di mana para kader maupun non kader saling berebut untuk menjadi pengurus PDIP maupun untuk mendapatkan rekomendasi guna bisa maju dalam pemilihan bupati, wali kota dan gubernur.
Puspayoga yang sudah mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan di Australia saat itu dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama berat, namun akhirnya diputuskan untuk mengikuti keinginan ayahnya Cokorda Bagus Sayoga untuk pulang kembali ke Bali.
"Ayah sayapun mempunyai alasan yang kuat untuk memangil saya pulang ke Bali, karena tenaga saya sangat dibutuhkan untuk mengurus partai, karena saat itu sulit mencari orang yang berani mengurus partai," tutur Puspayoga mengenang masa silam yang pernah dilakoninya.
Teguh dan Santun
Sosok pria yang berpenampilan sederhana itu dibesarkan dalam lingkungan Puri Satria Denpasar yang menjadi pusat perjuangan politik di Bali, sekaligus pusat pengembangan seni budaya.
Aktivitas keseharian dalam lingkungan seni budaya Bali mencetak Puspayoga menjadi sosok yang memiliki kepribadian unik, yakni menjadi politisi yang tegar dalam pendirian.
Selain itu fokus untuk mengabdikan diri dan selalu menghindari benturan kepentingan, namun tetap mengedepankan kesantunan, etika dan tauladan dalam perilaku kehidupan sehari-hari.
Alumnus Universitas Ngurah Rai Denpasar itu sejak mahasiswa kehidupan yang dilakoninya lekat dengan aktivitas partai yang menjadi sarana pengabdian kepada masyarakat.
Sejak mahasiswa sudah mengabdikan diri DPC PDI Kota Denpasar, saat terjadi pembelotan di PDI yang dipimpin oleh Soerjadi pada 1994, Puspayoga memilih untuk mendukung Megawati Soekarnoputri.
Puspayoga pada masa-masa genting itu ditunjuk dan dipercaya sebagai Ketua DPC PDI Denpasar. Sejarah berputar dan membawa PDI Pro-Megawati yang berubah menjadi PDI Perjuangan di Bali dan Indonesia umumnya berhasil memenangkan pemilihan umum 1999.
Anggota DPRD kabupaten/kota maupun DPRD Bali hasil Pemilu 1999 lebih dari 70 persen didominasi kader-kader PDI P yang tahan banting, termasuk AAN Puspayoga memperoleh kesempatan mengabdikan diri menjadi Ketua DPRD Kota Denpasar.
Tak beberapa lama kemudian ayah dari AA Abiyoga dipercaya menjadi wali kota Denpasar selama dua masa jabatan (2000-2005, 2005-2008) dan selanjutnya menjadi Wakil Gubernur Bali periode 2008- 2013 mendampingi Made Mangku Pastika.
Dalam mengabdikan diri kepada rakyat, bangsa dan negara sosok Puspayoga selalu berprinsip menjadikan keteguhan hati, kesantunan dan kebersihan dari korupsi menjadi modal utama.
Berkat tekad dan prinsipnya yang kuat itu mampu menjadikan dirinya sebagai tauladan yang mendapat simpati dari masyarakat luas, sehingga program pembangunan menyangkut berbagai aspek kehidupan masyarakat dinilai cukup berhasil, baik ketika menjabat sebagai Wali Kota Denpasar maupun Wakil Gubernur Bali.
Dari sekian banyak penghargaan dari pemerintah pusat, lembaga swadaya masyarakat dan dunia internasional, salah satunya adalah penghargaan Manggala Karya Kencana dari Kepala BKKBN.
Penghargaan tersebut berkat kepeloporan, pengabdian, dedikasi dan kepedulian dalam memajukan program keluarga berencana (KB) serta mewujudkan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKKBS).
Pewaris Puri Satria Denpasar itu juga mampu menjalin komunikasi dan kerja sama dengan semua komponen masyarakat, bahkan ketika menjabat Wali Kota Denpasar senantiasa memberikan sangu kepada umat muslim yang akan melaksanakan ibadah haji.
Tokoh kharismatik yang cukup disegani masyarakat Pulau Dewata itu juga menjalin tali persahabatan yang sangat akrab dengan umat Islam dan umat lainnya yang ada di delapan kabupaten dan satu kota di Bali.
Anak Agung Ngurah Puspayoga kini berpasangan dengan Dewa Nyoman Sukrawan (PAS) diusung PDI P sebagai kandidat gubernur Bali dalam Pilkada yang akan digelar 15 Mei mendatang.
Paket Puspayoga dan Dewa Nyoman Sukrawan (PAS) merupakan kader PDIP Bali yang baru pertama kali diusung partai berlambang kepala banteng kekar dalam lingkaran sejak kemenangan PDI P tahun 1999.
Selama tiga periode masa jabatan Gubernur Bali (15 tahun) selalu mengusung sosok non kader yang mampu mengantarkan menjadi gubernur.
Dalam Pilkada kali ini pasangan Puspayoga dan Dewa Nyoman Sukrawan akan berhadapan dengan dua paket lainnya telah mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bali sebagai peserta Pilkada.
Ketiga pasangan itu selain pasangan AAN Puspayoga dan Dewa Nyoman Sukrawan yang diusung oleh PDI P juga Mangku Pastika dan Ketut Sudikerta yang diusung Partai Golkar, Partai Demokrat dan tujuh parpol lainnya.
Satu paket lainnya adalah Gede Winasa berpasangan dengan I Putu Sudiartana. KPU Bali segera akan melakukan seleksi terhadap ketiga paket tersebut. (*/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026