Denpasar (Antara Bali) - Bali melakukan simulasi atau latihan peringatan dini tsunami dengan mengaktifkan sirine yang diberi nama Ina-TEWS atau "Indonesia Tsunami Early Warning System" pada Jumat (26/12) tepat pukul 10.00 Wita.
    
Sirine yang berbunyi ini telah terpasang di enam titik, yaitu dekat kantor Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) Badung di Kuta, BTDC Nusa Dua, Seminyak, Kedonganan, Sanur, dan Tanjung Benoa.
    
Kepala Unit Pelayanan Terpadu Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana Kesbanglinmas Pemprov Bali, Putu Anom Agustina mengatakan, daya jangkau dari suara sirine ini antara dua sampai tiga kilometer.
    
"Jika memang kita melakukan latihan maka setiap ada bunyi panjang diberitahukan kepada pengunjung kalau hanya latihan sehingga tidak perlu panik," jelas Anom.
    
Latihan ini sudah dilakukan tiga kali sejak Oktober dan setiap bulan latihan ini harus dilakukan untuk mengetahui kondisi alat masih dalam kondisi bagus atau tidak.
    
"Jika memang ada yang perlu diperbaiki, maka bisa langsung bisa ditangani. Untuk Desember ini sekaligus memperingati tsunami Aceh," katanya.
    
Menurut operator sirine, Ipung Purwanto, secara teknis ketika mendapatkan informasi gempa, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Denpasar memiliki kewenangan untuk menganalisa, seperti kekuatannya, kedalaman, lokasi, jarak wilayah, serta potensi tsunami atau tidak.
    
Syarat sebuah gempa dapat berpotensi tsunami harus memenuhi unsur, diantaranya harus diawali gempa dengan kekuatan minimal tujuh skala richter, lokasinya di laut, dan kedalamannya di bawah 70 kilometer.  
    
"Ketika BMKG menyatakan potensi tsunami, maka sirine langsung ditekan dari kantor Pusdalops Penanganan Bencana dan akan berbunyi di enam titik itu," ujar Ipung.
    
Jika beberapa menit kemudian peringatan itu dicabut, maka bunyi sirine berlangsung selama tiga menit ini akan dihentikan.
    
Pemasangan alat ini ditempatkan di wilayah yang berpotensi tsunami di kawasan Pantai Selatan karena memang lebih rawan.
 
"Pantai Utara ada potensi bencana tsunami, tapi cukup kecil jika dibanding wilayah selatan," kata Ipung.
    
Langkah ini dilakukan untuk memberikan rasa aman bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara yang tengah berlibur di Bali.
    
"Bali memiliki kawasan pantai yang sangat banyak dan indah sehingga menarik wisatawan untuk datang. Hal ini dilakukan guna memberikan pengamanan tak hanya dengan mengerahkan polisi dan tenaga keamanan lain, tapi juga sekaligus memberikan kenyamanan," ungkap dia.
    
Ke depannya, kantor ini akan berfungsi sebagai "call center" dalam penanganan bencana, baik yang disebabkan alam maupun nonalam.
    
"Dari perangkat keras sudah dapat beroperasi, hanya saja untuk perangkat lunak masih dibangun sistem aplikasinya dengan Prancis," ujarnya.
    
Pemantauan secara menyeluruh juga akan berpusat di tempat ini seperti akan tersambung dengan Siaga Polda Bali, terkoneksi dengan ratusan kamera pengintai atau CCTV yang telah dimiliki sejumlah instansi, seperti Polda Bali, kabupaten, hotel.
    
"Kita tidak mengambil alih kewenanganan tapi hanya mengkoordinasikan sehingga lebih terpadu," kata Anom. (*)



: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026