"Saat pelaksanaan arak-arakan ogoh-ogoh hasil kreativitas anak-anak muda itu selama ini sangat rawan terjadi bentrok antarkelompok/pengusung, bahkan memicu terjadinya keributan antarwarga banjar," kata I Ketut Sumadi di Denpasar, Selasa.
Ia mengatakan, pengalihan waktu pelaksanaan pawai ogoh-ogoh juga didasarkan pertimbangan atas rasa, yakni kegiatan tersebut biasanya digelar secara meriah, identik dengan menghibur diri untuk bersenang-senang.
Padahal saat malam Nyepi itu umat Hindu harus bersiap-siap melaksanakan Tapa Brata Penyepian yang meliputi empat pantangan, salah satunya "amati lelanguan" yakni tidak mengumbar hawa nafsu, termasuk larangan mengadakan hiburan, bersenang-senang.
Tiga pantangan lainnya meliputi "amati geni" (tidak menyalakan api), "amati karya" (tidak melakukan kegiatan) dan "amati lelungan" (tidak bepergian).
Ketut Sumadi menambahkan, pengalihan waktu penyelenggaraan pawai ogoh-ogoh dari malam pengerupukan Nyepi juga untuk menambah kesemarakan PKB, tanpa mengurangi arti dan maknanya.(*/T007).
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.