Tradisi Perang Sampian di Bali

  • Sabtu, 27 April 2024 21:12

Umat Hindu berkeliling pura sambil menari saat prosesi Nampiog dalam rangkaian tradisi Perang Sampian di Pura Samuan Tiga, Desa Bedulu, Gianyar, Bali, Sabtu (27/4/2024). Tradisi setahun sekali yang digelar secara turun-temurun di desa tersebut merupakan simbol perlawanan dharma (kebaikan) atas adharma (kejahatan) untuk memohon kesejahteraan lahir dan batin kepada Tuhan. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/wsj.

Umat Hindu saling berpegangan tangan saat melakukan ritual Maombak-Ombakan dalam rangkaian tradisi Perang Sampian di Pura Samuan Tiga, Desa Bedulu, Gianyar, Bali, Sabtu (27/4/2024). Tradisi setahun sekali yang digelar secara turun-temurun di desa tersebut merupakan simbol perlawanan dharma (kebaikan) atas adharma (kejahatan) untuk memohon kesejahteraan lahir dan batin kepada Tuhan. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/wsj.

Umat Hindu saling memukul menggunakan sampian atau bagian sesajen berbahan janur dalam tradisi Perang Sampian di Pura Samuan Tiga, Desa Bedulu, Gianyar, Bali, Sabtu (27/4/2024). Tradisi setahun sekali yang digelar secara turun-temurun di desa tersebut merupakan simbol perlawanan dharma (kebaikan) atas adharma (kejahatan) untuk memohon kesejahteraan lahir dan batin kepada Tuhan. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/wsj.

Umat Hindu saling memukul menggunakan sampian atau bagian sesajen berbahan janur dalam tradisi Perang Sampian di Pura Samuan Tiga, Desa Bedulu, Gianyar, Bali, Sabtu (27/4/2024). Tradisi setahun sekali yang digelar secara turun-temurun di desa tersebut merupakan simbol perlawanan dharma (kebaikan) atas adharma (kejahatan) untuk memohon kesejahteraan lahir dan batin kepada Tuhan. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/wsj.

Berita Terkait