Kepada wartawan, sejumlah warga, Senin, mengatakan, akibat penebangan tersebut kondisi lapangan menjadi panas dan tidak nyaman lagi untuk bersantai bagi warga.
Warga juga mengungkapkan, penebangan pohon jenis jempinis dan lain-lain ini ternyata hanya diketahui oleh segelintir perangkat kelurahan.
"Sementara ada perangkat kelurahan lainnya yang tidak tahu menahu soal penebangan ini. Kami jadi ragu dengan koordinasi di kelurahan," kata salah seorang warga.
Di kalangan warga juga beredar dugaan, pohon-pohon yang cukup besar itu ditebangi dengan alasan komersil yaitu untuk dijual dan uangnya dinikmati oleh oknum kelurahan.
Menurut salah seorang warga, sebanyak 10 pohon di lapangan yang ditebang sudah berusia tua dan memiliki nilai jual yang cukup mahal.
"Kami dengar pohon-pohon itu ditebang dengan alasan akan dilakukan peremajaan, tapi harusnya kami juga diberitahu dikemanakan pohon-pohon yang sudah ditebang itu," kata warga lainnya.
Warga ini mengatakan, sehari-hari lapangan di bawah keteduhan pohon tersebut digunakan masyarakat untuk berolahraga dan duduk-duduk santai.
Karena penebangan tersebut, lapangan Kelurahan Gilimanuk itu kini terkesan panas dan kering kerontang.
Warga menilai, seharusnya peremajaan pohon tidak perlu menebang pohon lama tapi bisa dilakukan dengan menanam pohon yang baru.
"Pemerintah gencar promosi agar memelihara pohon-pohon yang sudah ada dan menanam yang baru, tapi ini kok malah menebangi pohon," keluh warga.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Gilimanuk, Tukiran dan Wakil Ketua LPM, Nyoman Bungkir kepada wartawan juga mengaku, tidak pernah diajak koordinasi terkait penebangan pohon tersebut.
Mereka mengakui, tempat itu sekarang menjadi panas akan menganggu kegiatan 17 Agustus yang biasanya diadakan di lapangan tersebut.
Sedangkan Lurah Gilimanuk, IGK Rai Budi saat dikonfirmasi mengatakan, pohon-pohon itu ditebang karena sudah ketuaan dan menganggu.
Menurut Rai Budi, pihaknya akan menata lapangan itu dengan menanam pohon-pohon baru termasuk dengan memasang lampu penerangan.(**)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.