Semarapura (Antara Bali) - Warga desa adat Kemoning, Kecamatan Semarapura Kauh, Kabupaten Klungkung, tetap akan menggelar upacara ritual di Pura Dalem setempat, meski tempat suci tu masih menjadi polemik dengan blok timur, yakni Banjar Budaga.
"Kami akan tetap melaksanakan upacara 'Ngenteg Linggih', yang akan digelar pada 27 Juli mendatang," kata I Wayan Sudira, koordinator sulinggih atau pemimpin umat Hindu, Kamis.
Sudira yang didampingi Ketua Desa Kemoning Nengah Sukasta mengatakan, akan tetap melanjutkan upacara itu apapun yang terjadi.
Kata dia, awalnya desa adat Kemoning akan mengelar upacara di Pura Puseh setempat. Namun karena ada "Pemuus Ida Batara Dalem" atau ada petunjuk niskala, agar mengelar upacara di Pura Dalem terlebih dulu maka upacara di Pura Puseh ditunda.
"Untuk diketahui upacara di Pura Dalem tersebut sudah lama dilakukan, yakni yang terakhir tahun 1927 atau sudah 84 tahun tidak pernah diselenggarakan," katanya.
Selaian itu, kata Wayan Sudira, persiapan upacara juga sudah dilakukan cukup lama, yakni sejak dua bulan lalu.
Malah sekarang ini, jelas dia, persiapan upacara telah mencapai 80 persen.
"Banyak pengorbanan biaya, pikiran dan tenaga yang telah dilakukan warga Kemoning selama ini. Karena sejak awal akan digelar upacara, mereka sudah melakukan gotong-royong," ucapnya.
Jika karya (persiapan ritual) itu sampai dihentikan, jelas dia, akan sangat menyakiti hati warga Kemoning. "Peralatan upacara lainya sudah kelar, saat ini tinggal membuat sarana upacara," ujarnya.
Selaian itu, warga Kemoning juga tidak berani membatalkan upacara itu karena takut akan kena murka. "Warga Kemoning takut terhadap akibat yang mungkin akan diterimanya," kata Wayan Sudira.
Pernyataan itu juga diperkuat oleh Ida Panda Istri Patni dari Geria Batu Tabih, Klungkung.
Menurut Ida Pandada, pihaknya tidak berani menghentikan upacara tersebut, karena sudah ada "Pemuus Ide Batara Dalem" atau ada petunjuk secara niskala.
Untuk itu warga Kemoning tetap akan menggelar karya sesuai rencana. Puncak Karya sendiri akan dilakukan pada 27 Juli mendatang dan "pemungkasnya" pada 6 Agustus 2011.
Sementara itu, pagi sampai siang sebanyak 40 orang petugas Brimob Polda Bali nampak berjaga jaga di areal Pura Dalem.
Mereka juga dibantu oleh satu pleton personel gabungan dari Polres Klungkung. Mereka masih siap siaga untuk menghindari bentrokan antarkedua kubu.
"Yang jelas kami netral, polisi ada untuk menjaga keamanan" ujar Waka Polres Klungkung Kompol Gde Suwahyu.
Sementara itu pasukan Brimob Polda sendiri tiba Rabu (22/6) sekitar pukul 23.00 Wita. Mereka dipimpin langsung oleh Kepala Detasmen Anti Teror, Kompol Yestial Tulle.(*)
