Denpasar (Antara Bali) - Umat Hindu di Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, merayakan tradisi hari suci Pagerwesi secara khusyuk untuk memperkuat spiritualitas mereka dari pengaruh luar yang tidak baik.

"Tradisi perayaan Pagerwesi di wilayah ini sedikit berbeda dengan yang dilakukan umat Hindu di daerah lain," kata Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah-Indonesia) Kabupaten Buleleng, Ni Ketut Srie Kusuma Wardani, M.Pd, saat dihubungi dari Denpasar, Rabu.

Ia mengatakan, umat Hindu di Buleleng memaknai hari suci Pagerwesi sebagai "pageh" (pagar) untuk memperkuat diri dari pengaruh luar yang tidak baik.

Perayaan Pagerwesi, katanya, tidak hanya dimaknai secara harfiah sebagai pagar pekarangan rumah atau lingkungan, tetapi tentang pentingnya umat Hindu memagari diri sendiri dari pengaruh luar yang buruk.

Ia menjelaskan, Pagerwesi dirayakan umat setiap 210 hari. Upacara itu dilakukan masyarakat untuk pemujaan kepada leluhur.

"Umat Hindu di Buleleng dan sekitarnya pada hari suci Pagerwesi ini biasanya melakukan rangkaian persembahyangan di pura keluarga (pemerajan), ke "setra" (kuburan), dan kemudian ke pura-pura besar seperti Pura Jagat Natha, Pura Khayangan Tiga, dan lainnya," kata Srie yang juga dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar.

Ia mengatakan, perayaan Pagerwesi tidak bisa dilepaskan dari hari suci sebelumnya, antara lain Saraswati, Banyu Pinaruh (pembersihan lahir batin), Soma Ribek, dan Sabuh Mas.

"Perayaan Pagerwesi ini berdasarkan 'lontar Watugunung dan Sundarigama'. Kronologis Pagerwesi berawal dari hari raya Saraswati untuk memperingati turunnya ilmu pengetahuan dan 'Banyu Pinaruh' sebagai upacara penyucian ilmu pengetahuan tersebut," katanya.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, mengatakan, umat Hindu pada perayaan Pagerwesi mengadakan upacara keagamaan.

Mereka, katanya, menghaturkan sesaji antara lain rangkaian janur, bunga, dan buah-buahan (banten) di tempat suci rumah keluarga masing-masing (merajan).

Pagerwesi merupakan tonggak mengingatkan umat terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang menguasai alam semesta. Upaya itu dilakukan baik dengan cara bakti maupun pengorbanan suci secara tulus (yadnya).

Perayaan oleh umat Hindu pada hari suci terbesar kedua setelah Galungan dan Kuningan (Kemenangan Dharma) itu, katanya, juga untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, dan bimbingan ke jalan yang benar, serta mampu menegakkan kebenaran sesuai ajaran agama dan hati nurani.

"Umat Hindu memohon keselamatan kepada Sang Pencipta dalam manifestasi sebagai "Paramesti Guru"," kata Sudiana yang berasal dari Kabupaten Karangasem itu.

Ia mengharapkan, penggunaan kekuatan iman, bimbingan, dan lindungan Tuhan, serta ilmu pengetahuan oleh umat dilandasi kesucian diri agar mereka mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pada kesempatan itu ia juga mengatakan bahwa pelaksanaan tata cara di berbagai daerah di Bali disesuaikan dengan apa yang disebut sebagai "desa, kala, patra" (tempat, waktu, dan keadaan).

Perayaan tersebut, katanya, dilandasi tradisi masing-masing daerah dalam mengenang kembali kemenangan "dharma" (kebaikan) melawan "adharma" (keburukan).

"Ajaran agama pada hakikatnya mampu menyejukan diri umatnya (pageh) dan menjadi aplikasi dari jati diri dalam memfungsikan untuk kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara," kata Sudiana.(*)


: Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026