Catatan Redaksi

Prof Gede Sri Darma, D.B.A, prototype generasi muda pejuang yang jujur, intelektual dan option kepada pembangunan masyarakat  Bali. Tiga sifat dasar paling dominan dari  Sri Darma tersebut menyatu dalam karakter dirinya, sebagai kekuatan progresif  menyiapkan anak anak Bali  dengan visi 'Move to Global Digital' dengan mendobrak tradisi akademis yang tidak produktif. Sri Darma adalah  rector termuda di Indonesia yang pikiran pikiran-pikirannya selalu mencerahkan anak bangsa , sehingga layak menjadi pemimpin Bali masa depan.



Percakapan itu terjadi di Bali setelah Sri Darma menyelesaikan kursus Bahasa inggris di Melbourne University pada September 1996. Hanya ada waktu selama dua bulan Bali baginya untuk membunuh rasa rindu pada orang tua, kakak-adik, sanak keluarga dan kekasih, sebelum akhirnya dia harus kuliah di Southern Cross University. Sri Darma memanfaatkan waktu yang tersedia sebaik-baiknya, terutama pada sang kekasih agar semakin sedikit belahan rindu yang tersisa pada saat akan berangkat kembali pada bulan Desember 1996.

Sesuai dengan jadwal yang tercantum dalam tiketnya, Sri Darma pun kembali ke Australia. Dia tidak boleh terlambat karena harus menyiapkan segala perkuliahan di Southern Cross University, sehingga bisa hadir pada kuliah perdana yang akan dimulai pada 7 Januari 1997. Perjalanannya kali ini tidak terlalu memusingkan, seperti yang pertama. Dari Bali pesawat terbang yang ditumpangi langsung menuju ke Sydney untuk transit. Dari Sydney terbang lagi menuju Brisbane. Dari Brisbane langsung ke East Lismore.

Di Bandara East Lismore, Sri Darma sudah ditunggu oleh orang yang akan mengantarnya menuju ke apartemen. Dia seorang doktor yang menjabat sebagai Kepala International Office di Southern Cross University, namanya Ross Lehman. Seperti biasa sebuah perkenalan pasti disertai dengan percakapan. Salah satunya adalah,

"Apa sebelumnya kamu sudah pernah ke Australia?"

"Saya sudah pernah ke Melbourne."

"Kalau begitu, saya sudah berani melepas kamu sendiri untuk mengurus segala kebutuhanmu."

"Pengalaman pertama ke Melbourne, jadi bekal yang luar biasa bagi saya. Saya sudah berani pergi sendirian membeli segala kebutuhan untuk di apartemen. Tidak perlu lagi harus diantar oleh orang lain, seperti saat pertama saya datang. Tentu saya akan kesulitan, kalau sebelumnya, saya tidak pernah menginjakkan kaki di Australia."

Sri Darma memang merasakan sekali adanya perbedaan pada dirinya. Pada kedatangannya yang kedua ini, dia sudah tidak merasa canggung lagi tinggal di australia. Namun ada sedikit perasaan aneh, kikuk, saat harus berhadapan dengan kehidupan kampus, yang semuanya tertata rapi. Termasuk pula saat mengikuti acara Welcome Student, yang dalam batas-batas tertentu di Indonesia mirip dengan Ospek. Namun cara pelaksanaannya jauh berbeda.

Para mahasiswa asing dikumpulkan di International Office. Di ruangan itu mereka diperkenalkan satu-persatu, sesuai dengan jenjang pendidikan yang diambil: Ph.D, D.B.A, dan Magister. Setelah itu mereka diajak mengunjungi para dosen sesuai dengan jenjang pendidikannya. Para dosen memberikan mereka penjelasan penting mengenai banyak hal terkait dengan perkuliahan.

"Ospek gaya Australia itu betul-betul bertujuan untuk mengenalkan apa yang namanya kampus itu. Dimulai dari hal-hal kecil, bagaimana cara memfotocopy buku, masuk ke laboratorium serta prosedur meminjam buku di perpustakaan, sudah siap seorang petugas yang akan menerangkan bagaimana mencari buku dan informasi via internet."

Para mahasiswa asing, yang biasanya disebut international student tidak hanya diperkenalkan dengan suasana di dalam, tapi juga di luar kampus. Tujuannya agar mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan di sekitaran kampus. Salah satu caranya adalah dengan cara mengajak mereka mengunjungi suatu tempat untuk mengusir rasa jenuh, yang tentunya jauh dari citra negatif.

"Karena kami adalah international student, tentu masih ada kekurang pahaman tentang culture di sana. Beruntungnya kami diajarkan tentang itu. Itu menjadi sesuatu yang baru dalam hidup saya. Saya yang sudah terbiasa dengan kehidupan kampus di UGM yang begitu ketat, tiba-tiba di Australia itu tambah luar biasa lagi."

Manajemen perkuliahan di kampus Southern Cross University tampak lebih sistematis ketimbang di UGM, seperti terlihat dari tatacara pemberian tugas kepada mahasiswa. Di semester satu misalnya, mahasiswa sudah disediakan petunjuk materi perkuliahan dan pertemuan pertama sampai keenam belas. Petunjuk perkuliahan itu wajib dibaca oleh para mahasiswa supaya tahu materi apa yang diajarkan, tugas-tugas yang akan diberikan, dan jadwal pertemuan dengan para dosen.

"Jadi, time table di Southern Cross University itu jelas sekali. Dan benar-benar dijalankan," kata Sri Darma.

Tidak hanya time table, hal lainnya yang membuat Sri Darma terkagum-kagum pada manajemen perkuliahan di Southern Cross University adalah pemakaian email, electronic mail atau surat elektronik. Ini benar-benar hal yang baru baginya, sebab sebelumnya tidak pernah mendengar istilah email, apalagi fungsinya. Wajar saja Sri Darma merasa asing seperti itu, karena PT Pos Indonesia saja baru pada tahun 1996 membentuk Divisi Teknologi dan Sistem Informasi untuk mengelola dan mengembangkan jaringan internet serta bisnis internet. Dukenal dengan nama "Wasantara-Net." Layanan internet mulai dikembangkan di empat kota besar. Umumnya yang termasuk ke dalam empat kota besar di Indonesia adalah DKI Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung.

Syukurnya, pihak kampus Southern Cross University mau memberikan pelatihan khusus tentang email untuk semua international student. Mereka dimasukkan ke dalam sebuah kelas, untuk bersama-sama memperoleh pelajaran cara membuat alamat email. Dengan adanya alamat email, maka akan memudahkan mahasiswa berkomunikasi dengan promotor, unutk membuat janji, bimbingan, dan sebagainya.

"Ternyata email itu memudahkan dalam berkomunikasi. Tidak hanya dengan promotor, tapi juga dengan keluarga atau teman. Sayangnya, di Indonesia belum ada budaya email saat itu. Ini yang membuat saya sedikit terhambat kalau ingin berkomunikasi dengan keluarga dan kekasih di Bali. Jadinya terpaksa hanya melalui telpon."

Suasana Kuliah di Southern Cross University

Sudah disebutkan sebelumnya, banyak hal baru dan bernilai positif yang ditemui Sri Darma mulai sejak menginjakkan kaki di Southern Cross University. Kali ini, menyangkut ritme perkuliahan yang berbeda dengan di Universitas Udayana ataupun UGM. Semuanya serba teratur dan terjadwal dengan sangat baik. Kurang lebih ada lima mata kuliah yang diambilnya dalam kurun 2 tahun itu, antara lain Research Method dan Strategic Management in Global Vision.

Sebenarnya, Sri Darma tak perlu sampai mengambil kedua mata kuliah tersebut, karena sudah disediakan advance study. Itu artinya, kampus membebaskan mahasiswa dari beberapa mata kuliah, khususnya bagi mereka yang berasal dari universitas tertentu. Namun ia baru mengetahuinya ketika sudah duduk di semester tiga. Sri Darma jadi penasaran. Ia lantas menghadap ke Direktur Post Graduated Studies, kepala program Pascasarjana untuk meminta penjelasan. Terjadi percakapan di antara mereka, antara lain,

"Dimana Anda memperoleh gelar Magister Bisnis Manajemen?"

"Di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta."

"Kalau begitu, harusnya Anda bebas tiga mata kuliah. Cukup mengambil dua mata kuliah saja."

Sri Darma pun baru mengetahui kalau lulusan UGM boleh masuk advance study di Southern Cross University. Sekalipun terlambat mengetahuinya, tidak ada kata sesal dalam hatinya.

"Saya tidak menyesal. Karena saya jadi dapat tambahan ilmu. Meski sudah pernah diajarkan sebelumnya, tapi ada bedanya. Dulu saat di UGM bahan ajarnya berasal dari buku saduran, tapi kalau di Southern Cross University langsung dari buku aslinya, berbahasa Inggris. Ini luar biasa sekali."

Suasana kuliah juga terasa semakin luar biasa, terutama saat untuk pertama kalinya Sri Darma harus berdiskusi dengan teman-temannya di kelas dalam Bahasa Inggris. Ini jadi salah satu style cara dosen mengajar di Southern Cross University. Sekalipun tidak semua dosen menerapkan hal yang sama. Namun secara umum dosen lebih banyak memposisikan diri sebagai pendengar, sekaligus moderator. Mereka rata-rata serius saat mendengarkan para mahasiswanya berdebat mengeluarkan argumentasi masing-masing tentang sebuah topik. Awalnya Sri Darma masih kesulitan nmenyampaikan dan mempertahankan argumentasinya, namun lama kelamaan jadi terbiasa.

Sri Darma mempunyai cara khusus untuk meningkatkan kemampuannya dalam berdiskusi, yakni dengan memposisikan dirinya sebagai orang yang terakhir dalam mengeluarkan pendapat. Pengalaman saat pertama kali melakukan transaksi di bank, dijadikan guru. Sebab dengan tampil sebagai pembicara terakhir, ia jadi memiliki banyak waktu untuk mencerna hal-hal yang sudah disampaikan teman-temannya. Telinganya belum cekatan mendengarkan percakapan bahasa Inggris akademis antara sesama native speaker. Strateginya tepat. Lama kelamaan, dengan semakin sering dan banyak menyerap istilah akademis, maka Sri Darma pun jadi fasih berdebat.


Editor : I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026