Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol Drs Suhardi Alius MH, mengharapkan kalangan civitas akademika di perguruan tinggi turut dalam meredam penyebaran paham radikal (radikalisme) dan terorisme.

"Diantaranya dengan meningkatkan kepekaan, kewaspadaan dan kepedulian di lingkungan pendidikan terhadap adanya penyebaran radikalisme dan terorisme," katanya saat memberikan kuliah umum di hadapan sekitar 600 mahasiswa dengan tema “Resonansi Kebangsaan dan Bahaya serta Pencegahan Radikalisme” di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu, dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA.

"Ini penting saya sampaikan kepada adik-adik karena sekarang ini informasi teknologi digital ini masuk begitu cepatnya. Tidak perlu interaksi. Interaksi cukup dengan gadget, dengan dunia maya sudah bisa mengubah orang dari hal-hal positif menjadi negatif. Salah satunya masalah radikalisme dan terorisme yang mana penyebaran paham-paham itu masuk melalui dunia maya ini. Untuk itu 'knowledge' dan 'skill' yang dimiliki adik-adik ini harus diimbangi dengan akhlak dan wawasan kebangsaan," katanya.

Dengan kepekaan, kewaspadaan dan kepedulian tersebut, maka civitas akademika dapat menjadi agen perubahan, katanya.

"Kalau ada teman-temannya yang mungkin ‘sudah terjerumus’ harus kita selamatkan. Tugas yang harus mereka kerjakan adalah bagaimana mereka kuliah bisa selesai tepat waktu dan bagaimana berkiprah di dalam republik ini,” kata mantan Kapolda Jawa Barat ini

Dalam kesempatan itu, Suhardi berpesan agar mahasiswa ITB termasuk civitas akademika di lingkungan kampus ITB juga mengembangkan 'sense of crisis' untuk saling mengingatkan terhadap satu sama lain di lingkungannya.

"Jadi harus ada 'sense of crisis' terhadap sebuah fenomena sosial kepada seluruh mahasiswa. Jangan sampai terpapar dan saling mengingatkan satu sama lainnya,” tutur Kepala BNPT

Baca juga: Wapres Ma'ruf minta UIN redam penyebarluasan paham radikal

Dalam kesempatan tersebut Kepala BNPT juga menyempatkan untuk memberikan pembekalan terkait "Peran Civitas Akademica dalam Menangkal Penyebaran Paham Radikal Terorisme" kepada para pejabat struktural ITB yang baru saja dilantik pada Rabu pagi oleh Rektor ITB, Prof Reini Wirahadikusumah MSCE, Ph.D.

Menurut Kepala BNPT, monitoring juga perlu dilakukan oleh pihak kampus terkait apa yang dilakukan mahasiwanya baik di dalam maupun di luar kampus. "Sehingga ada masukan misalnya kepada bu Rektor sebagai 'decision maker' (pengambil keputusan) disini (ITB) untuk memberikan keputusan yang betul-betul mendukung semua proses belajar mengajar di lingkungan ITB," katanya.

Baca juga: Mahfud MD: makna radikal dalam hukum tak perlu diperdebatkan

Sementara itu Rektor ITB Reini Wirahadikusumah, ITB terus bertekad untuk mencetak para lulusannya agar bisa menjadi berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia ini. Namun demikian tidak hanya mencetak mahasiswa yang memiliki 'knowledge' dan 'skill' saja, namun mahasiswa tersebut harus memiliki wawasan kebangsaan yang tinggi dalam membangun bangsa ini.

"Dari sisi aspek pendidikan formalnya yakni sains, teknolog, seni, humaniora dan sebagainya, kami (ITB) ini bisa dikatakan sebagai ahlinya. Tetapi hal tersebut tentunya tidak cukup. Mahasiswa pun harus memiliki kemampuan kebangsaan yang sangat baik," ujarnya.

Baca juga: Ansor minta Mendikbud tekan radikalisme di kampus


 

Pewarta: M Arief Iskandar

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2020