"Pembangunan tempat suci itu berawal dari meletuskan Gunung Agung tahun 1963, sehingga masyarakat Bali terpaksa merantau atau transmigrasi ke berbagai daerah di Tanah Air," kata Dirjen Ketut Widnya pada kuliah pembekalan mahasiswa Pascasarjana (S-2) dan Program Doktoral (S-3) Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Senin.
Ia mengatakan, kepindahan masyarakat Bali 53 tahun yang silam ke berbagai daerah di Indonesia itu sekaligus merintis pembangunan pura yang kini sudah berdiri kokoh di sebagian daerah besar daerah di Indonesia.
Keberadaan pura tersebut mampu sebagai pusat peradaban kehidupan beragama, sekaligus memberikan pencerahan terhadap umat.
Prof Widnya yang juga guru besar IHDN Denpasar itu menambahkan, agama Hindu merupakan agama yang dipraktekkan langsung dalam kehidupan sehari-hari, sehingga sulit dipelajari dan dipraktekkan dalam peradaban.
Oleh sebab itu kegiatan yang dilandasi dengan keiklasan itu dilakukan dalam berbagai bentuk "nyadnya" (sesaji/banten), meditasi maupun yoga (pemusatan olah pikiran), ujar Prof Widnya.
Direktur Pascasarjana IHDN Denpasar Dr I Ketut Sumadi menjelaskan, jumlah mahasiswa S-2 dan S-3 tahun 2016/2017 sebanyak 137 orang dan tahun sebelumnya tercatat 180 orang.
Mahasiswa baru tersebut terdiri atas program studi S-3 14 orang, program studi S-2 Brahma Widya 17 orang, Dharma Acarya 76 orang, Bahasa Bali 19 orang dan Ilmu Komunikasi Hindu sebelas orang.
Pembekalan materi tersebut berlangsung selama tiga hari, 19-21 September 2016 bertujuan untuk menyamakan persepsi mahasiswa terhadap materi agama Hindu dan Karya tulis ilmiah.
Selain itu agar mahasiswa mengenal dan memahami proses serta prosedur perkuliahan dan menjalin kerja sama dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan tinggi. (WDY) (WDY)
Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026