Tingkat inflasi Kota Denpasar secara kumulatif periode Januari-Juni 2016 sebesar 0,92 persen dan inflasi tahun ke tahun yakni Juni 2016 terhadap Juni 2015 sebesar 2,78 persen, kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Adi Nugroho di Denpasar, Jumat.
Ia mengatakan, inflasi di ibukota Provinsi Bali itu terjadi karena adanya peningkatan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks pada enam kelompok pengeluaran yakni kelompok bahan makanan mengalami inflasi sebesar 1,02 persen.
Selain itu juga kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,54 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,33 persen. Demikian pula kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,33 persen.
Sementara kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,13 persen, kelompok sandang 0,07 persen serta kelompok kesehatan sebesar 0,02 persen.
Adi Nugroho menambahkan, kelompok pendidikan, rekreasi dabn olahraga mengalami deflasi sebesar 0,06 persen.
Andil komponen inti pada bulan Juni 2016 sebesar 0,09 persen, komponen harga diatur pemerintah memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,13 persen serta komponen bergejolak memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,17 persen.
Adi Nugroho menjelaskan, komponen yang mengalami peningkatan harga antara lain buah apel, buah jeruk, buah pir, daging ayam ras, ikan tongkol, tarif angkutan udara dan tarif listrik.
Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga selama bulan Juni 2016 antara lain bawang merah, cabai merah, kangkung, jagung manis, nangka muda, pepaya dan pisang.
Dari 82 kota di Indonesia yang menjadi sasaran survei, seluruhnya mengalami inflasi, inflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang sebesar 2,14 persen dan inflasi terendah di Padang hanya 0,10 persen.
Jika diurut dari inflasi tertinggi, maka Kota Denpasar menempati utuan ke-64 dari 82 kota di Indonesia yang mengalami inflasi, ujar Adi Nugroho. (WDY)
Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026