Denpasar (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan Pangan) Bali melakukan pengecekan ketersediaan stok dan harga kebutuhan pangan menjelang Hari Raya Nyepi yang berdekatan dengan Idul Fitri.

“Berdasarkan hasil pemantauan stok dan harga di pasar tradisional, distributor, serta pelaku usaha pangan, beras, gula, minyak goreng, telur, hingga komoditas hortikultura masih dalam kategori terkendali,” kata Kepala Distan Pangan Bali I Wayan Sunada dalam keterangan pers di Denpasar, Jumat.

Ia merinci beras sebagai komoditas utama saat ini menunjukkan neraca surplus.

“Stok beras dalam kondisi aman dengan pantauan harga pada minggu kedua Maret 2026 gabah kering giling (GKG) Rp8.060 per kilogram di penggilingan, dan tidak ada indikasi kelangkaan menjelang Hari Raya Nyepi maupun Idul Fitri,” ujar Sunada.

Selanjutnya untuk aging babi dan sapi, berdasarkan pemantauan Distan Pangan, harganya masih relatif stabil dan dalam kategori terjangkau di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang hari raya.

Sunada menjelaskan umumnya permintaan daging babi meningkat menjelang Hari Raya Nyepi, namun terpantau masih stabil hingga minggu kedua Maret 2026 dengan harga Rp37.833/kg berat hidup di tingkat produsen.

Sementara itu, harga daging sapi mencapai Rp47.056 kg berat hidup di tingkat produsen karena permintaan menjelang Idul Fitri, namun untuk ketersediaan stok masih aman.

Terhadap harga komoditas daging babi dan daging sapi, ia menilai masih belum menunjukkan lonjakan signifikan terutama di pasar tradisional maupun distributor di Kota Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan.

“Kondisi ini didukung oleh ketersediaan ternak lokal serta distribusi yang berjalan lancar, selain itu koordinasi lintas sektor bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga dan mencegah praktik spekulasi,” kata Sunada.

Namun demikian dari hasil pengecekan di lapangan, Distan Pangan Bali menemukan terdapat dinamika harga pada komoditas cabai yang mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir.

Di tingkat petani, kenaikan tersebut dipicu oleh faktor cuaca ekstrem yang mempengaruhi produktivitas dan kualitas panen di sejumlah sentra produksi, terutama akibat intensitas hujan yang tinggi.

“Curah hujan yang cukup tinggi belakangan ini berdampak pada penurunan produksi cabai serta gangguan distribusi dari sentra luar daerah, hal ini mendorong kenaikan harga di tingkat pasar, meski begitu kenaikannya masih dalam batas wajar dan terus kami pantau,” kata dia.

Atas temuan-temuan kondisi di pasar jelang Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri itu, Sunada memastikan Pemprov Bali mengintensifkan langkah antisipatif, antara lain melalui operasi pasar, pemantauan harian harga, serta fasilitasi distribusi antarwilayah apabila terjadi disparitas harga yang mencolok.

Jelang hari besar keagamaan masyarakat diimbau untuk tetap berbelanja secara bijak dan tidak melakukan panic buying, karena ketersediaan stok pangan strategis dipastikan cukup hingga pasca perayaan hari raya.

Dengan kesiapan stok, stabilitas harga bahan pokok penting utama, serta pengendalian distribusi yang optimal, Pemprov Bali optimistis mampu menjaga ketahanan pangan daerah dan stabilitas ekonomi masyarakat selama momentum hari raya.

Ia menyampaikan hasil monitoring harga  dilakukan bersama-sama petugas Satgas Saber (Satuan Tugas Sapu Bersih) Ditreskrimsus Polda Bali, Badan Pangan Nasional (Bapanas), Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali, Dinas Penanaman Modal Terpadu Satu Pintu, serta Perum Bulog.



Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026