Denpasar (ANTARA) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Denpasar mengutamakan pasar murah untuk menekan inflasi dalam jangka pendek periode Nyepi dan Idul Fitri.
“Kami apresiasi atas komitmen kepala daerah dalam memperkuat pengendalian inflasi melalui TPID Kota Denpasar,” kata Deputi Kepala Perwakilan BI Bali Ronald D. Parluhutan di Denpasar, Jumat.
Selain pasar murah, prioritas lain yang ditempuh mencakup kerja sama ekonomi kabupaten/kota di Bali dan provinsi lainnya serta sosialisasi publik.
“Untuk jangka panjang melalui penguatan ketahanan pasokan dan koordinasi kebijakan,” katanya.
Ia optimistis intervensi itu dapat menembus target rentang inflasi yaitu 1,5 hingga 3,5 persen pada 2026.
Sementara itu, Bulog Bali berpartisipasi dalam operasi pasar dan gerakan pangan murah bersama perangkat daerah anggota TPID guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan bahan pokok.
Adapun stok beras Bulog di Bali sebanyak 15.000 ton, dengan asumsi ketika hari biasa untuk penjualan beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) dan pembagian bantuan pangan dalam sebulan di Bali mencapai 6.000 ton.
Sehingga stok beras kini setara untuk memenuhi kebutuhan 2,5 bulan di Bali pada hari biasa.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) menyoroti ketersediaan bahan makanan yang belum sepenuhnya stabil akibat cuaca ekstrem serta perlunya antisipasi peningkatan permintaan menjelang hari raya Nyepi dan Idul Fitri.
Selain itu, perekonomian saat ini dihadapi tantangan dinamika global seperti konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Menyikapi kondisi itu, Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara mengatakan situasi di kawasan Timur Tengah berpotensi memengaruhi harga bahan bakar minyak (BBM), yang selanjutnya dapat berdampak pada biaya transportasi, subsidi pemerintah, serta mendorong kenaikan harga berbagai komoditas lainnya.
Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta WigunaEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026