"Selain tidak makan dan minum, selama dua hari satu malam, umat tidak tidur dan tidak bicara, yang dapat dilakukan di rumah masing-masing atau secara berkelompok di pura atau tempat lain yang mampu memberikan rasa ketenangan dan kenyamanan," kata Kabag Publikasi dan Dokumentasi pada Biro Humas dan Protokol Pemrov Bali I Ketut Teneng di Denpasar, Kamis.
Ia mengatakan, seiring dengan kegiatan ritual itu, Gubernur Bali Made Mangku Pastika menetapkan dua hari pelaksanaan Hari Siwalatri itu sebagai hari libur lokal (fakultatif) bagi satuan kerja perangkat daerah (SKPD) tingkat Provinsi Bali maupun pemkab dan pemkot di daerah ini.
Pura Besakih, tempat suci umat Hindu terbesar di Bali yang berlokasi di kaki Gunung Agung di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, biasanya setiap tahun dijadikan umat dari delapan kabupaten dan satu kota di daerah ini untuk melaksanakan Hari Siwaratri.
Rangkaian kegiatan ritual itu melibatkan puluhan pemimpin upacara keagamaan umat Hindu (sulinggih) melaksanakan rangkaian tiga kali persembahyangan selama malam Siwaratri itu, tutur Ketut Teneng.
Hari Siwaratri itu jatuh setiap 420 hari sekali, yakni bertepatan dengan hari ke-14 patuh gelap bulan ketujuh kalender Bali (panglong ping 14 sasih kepitu) mengandung makna yang sangat mendalam dalam memburu kebaikan (dharma).
Ketua Program Studi Pemandu Wisata Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Dr I Ketut Sumadi, MPar dalam kesempatan terpisah berharap, melalui perayaan Siwaratri, umat Hindu dapat melakukan instrospeksi diri, mencari penyebab dan jalan keluar dari berbagai permasalahan yang dihadapi dengan menerapkan konsep "Karma Marga", yakni kerja keras dan penuh inovasi.
Aktualisasi diri dalam melakukan pendakian spiritual tersebut dapat mengendalikan diri dan hidup hemat memenuhi keinginan dalam kehidupan sehari-hari.
"Jika keinginan tidak dapat dikendalikan kehidupan menjadi boros dan serakah, padahal tidak menjadi kebutuhan utama dalam menjalani kehidupan," tutur Ketut Sumadi.
Perayaan Hari Siwaratri umumnya akan berlangsung di setiap pura yang ada di masing-masing desa adat di Bali. Kegiatan ritual tersebut sekaligus bermakna mohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sanghyang Widhi Wasa agar bangsa dan negara Indonesia terhindar dari bencana alam dan mampu mengatasi akibat krisis serta hal-hal lain yang tidak diinginkan.
Hal lain yang tidak kalah penting bermakna memberikan pengetahuan kepada umat manusia agar menyadari, bahwa dalam dirinya selalu ada "pertarungan" antara Dewi Sampad (sifat baik) dengan Asuri Sampad (sifat buruk).
Oleh sebab itu, sebaik-baiknya tingkah laku dan perbuatan manusia pasti pernah melakukan dosa (kesalahan) dalam kehidupannya, sebaliknya sejelek-jeleknya manusia pasti pernah berbuat yang baik (benar).
Menyadari hal itu, melalui perayaan Siwaratri dimaksudkan mampu memberikan motivasi kepada setiap umat manusia, agar sadar dan berusaha maksimal menghindari perbuatan dosa serta memperbanyak perbuatan dharma (kebaikan), harap Ketut Sumadi.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.