Denpasar (Antara Bali) - Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta meminta pada seluruh rumah sakit dan tenaga medisnya agar memberikan pelayanan yang cepat dan maksimal kepada pasien penderita demam berdarah dengue (DBD), menyusul tingginya jumlah kasus akibat gigitan nyamuk itu.
"Saya imbau dan tekankan kepada pihak rumah sakit yang ada di seluruh Bali, baik daerah maupun swasta, apabila masyarakat yang datang meminta pelayanan agar penanganan pertama terhadap pasien DBD optimal diberikan untuk mengantisipasi kejadian buruk lainnya," kata Sudikerta, di Denpasar, Selasa.
Di samping itu, dia juga mengharapkan supaya pihak rumah sakit melakukan upaya penyediaan tempat tidur yang layak bagi para pasien.
Tidak kalah penting, orang nomor dua di Bali itu mengharapkan upaya pencegahan DBD dengan melakukan gerakan 3M yaitu menguras tempat penampungan air secara rutin minimal ketika air sudah mulai keruh, mengubur barang-barang yang tidak terpakai yang dapat memungkinkan terjadinya genangan air dan menutup tempat-tempat penampungan air.
Sudikerta juga menyoroti pentingnya pengasapan (fogging) untuk membunuh nyamuk dewasa. "Maka, dengan melakukan berbagai kegiatan pencegahan tersebut kita harapkan penyebaran demam berdarah di Bali dapat ditekan semaksimal mungkin," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kepala Kesehatan Provinsi Bali dr. Ketut Suarjaya, mengungkapkan bahwa dari bulan Januari-April 2016 terdapat 30 orang yang meninggal dari 6.812 kasus DBD yang terjadi di Bali.
Menurut dia, penanganan DBD tersebut sudah dilakukan dengan benar sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) pada rumah sakit maupun puskesmas yang ada di Bali, namun kasus-kasus kematian pada DB yang sering terjadi merupakan akibat dari keterlambatan diagnosa.
"Jadi misalnya panas yang sudah terjadi beberapa hari tidak disadari itu adalah DBD, sehingga pada saat datang ke rumah sakit sudah dalam keadaan fase shock," katanya.
Dia menambahkan, terdapat tiga cara dalam mengobati DBD yaitu pasien harus istirahat total, kedua dengan pemberian cairan baik itu infus maupun minuman oral kepada pasien, ketiga pemberian vitamin dan stimulus untuk peningkatan daya tahan tubuh pasien.
Sehingga dalam waktu lima hari virus DBD akan semakin berkurang dengan ditandai peningkatan trombosit pada hari keenam.
Selain itu, Suarjaya juga mengungkapkan bahwa penyebarah virus DBD juga tergantung dari curah hujan dan biasanya meningkat dari Januari-April.
Oleh karena itu, diharapkan pencegahan DBD dapat dilakukan beberapa bulan sebelum itu, seperti pada bulan September dengan cara melakukan 3 M tersebut. Dengan dilakukan upaya pencegahan tersebut maka virus DBD tidak akan menyebar terlalu luas. (WDY)