Singaraja (Antara Bali) - Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Buleleng, Bali mencatat terdapat sekitar 100 hektare pemukiman kumuh di kabupaten terluas di Pulau Dewata itu.

Kepala Bidang Perencanaan Fisik Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Buleleng, I Nengah Budiarta, Rabu mengatakan, luas pemukiman kumuh terbanyak ada di Kota Singaraja, menyusul Kecamatan Seririt dan Kecamatan Sawan.

Secara umum, kata dia, pihaknya tidak dapat menyebutkan penurunan luas pemukiman kumuh yang ada di Buleleng. Namun Pemkab Buleleng menurutnya telah berupaya untuk mengurang angka pemukiman kumuh.

"Secara angka rinci kami belum bisa menyebut karean perlu tata awal, melaui data base ini kita bisa merekam posisi awal seperti apa. Yang jelas pimpinan daerah memprioritaskan sanitasi dan persampahan," katanya.

Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupar) melalui Dirjen Cipta Karya mulai tahun ini memiliki Program Peningkatan Kualitas Kawasan Pemukiman (P2KKP). Program ini menggantikan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM Mandiri Perkotaan).

Dalam pelaksanaan P2KKP ini, Kemenpupar bekerja sama dengan Pemprov Bali dan Pemkab Buleleng. Hal ini sesuai Undang-Undang Nomor 1 tahun 2011 tentang perumahan dan kawasan pemukiman.

"Dari pusat penanganan kita di atas 15 hektare, provinsi 10--15 hektare, kabupaten di bawah 10 hektare, pembagian kewenangan juga terkait pendanaan," ujar Asisten Perencanaan Satker Bankin Bali, Ketut Suarta.

Kemenpupar menargetkan seluruh wilayah perkotaan di Indonesia bebas pemukiman kumuh pada 2019. Yakni dengan mencanangkan Program Prakarsa Pemukiman 100-0-100.

"100-0-100 ini adalah program pengembangan pemukiman berkelanjutan, dengan mencapai 100 persen air minum, mengurangi kawasan kumuh hingga 0 persen dan 100 persen akses sanitasi untuk masyarakat pada akhir 2019," tambahnya.

Ada tujuh indikator pemukiman kumuh. Antara lain, kepadatan bangunan, jalan lingkungan, drainase, pelayanan air minum, pelayanan persampahan, dan pemadam kebakaran.

"Sementara Buleleng menempati peringkat kedua pemukiman paling kumuh di Bali di bawah Denpasar. Alasannya karena banyak tanah di perkotaan yang disewakan untuk pemukiman," paparnya. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Made Bagus Andi Purnomo
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026