Denpasar (Antara Bali) - Ketua Asosiasi Usahawan Briket Batu Bara Indonesia (AUBI) Ladjiman Damanik mengatakan, masyarakat hingga kini belum secara optimal menggunakan energi terbarukan dari briket atau sisa pembakaran batu bara.
"Potensi energi di Indonesia yang berasal dari briket cukup banyak. Untuk perusahaan negara atau perusahaan batu bara yang dikelola oleh BUMN rata-rata per tahun menghasilkan 230 ribu ton briket," katanya di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu.
Pada seminar yang mengangkat tema "Pemanfaatan dan Penyedian Briket Batu bara", ia mengatakan, selain perusahaan negara, juga perusahaan swasta bisa menghasilkan 21 ribu ton per tahun sehingga total keseluruhan mencapai 251 ribu ton per tahun.
"Jumlah ini masih bisa ditingkatkan melalui sektor swasta, sehingga keseluruhan briket yang bisa dimanfaatkan sebagai energi alternatif bisa mencapai 300 ribu ton per tahun," katanya.
Dengan demikian, kata dia, seandainya seluruh rakyat Indonesia menggunakan energi briket akan bisa terpenuhi.
Menurut Damanik, tuduhan yang mengatakan jika briket tidak sehat baik secara lingkungan maupun secara pribadi itu tidak benar.
Sebab, lanjut Damanik, dengan teknologi sudah teruji bahwa jika briket diolah dengan beberapa bahan baku lain, hasilnya masih di bawah ambang batas.
"Berdasarkan hasil laboratorium asap maupun karbondioksida masih di bawah ambang batas sebagaimana sumber energi lainnya," ucap dia.
Dari segi keunggulannya, kata dia, briket dijamin lebih aman, anti meledak, tidak menimbulkan risiko kebakaran, lebih efisien, tidak mengganggu pernafasan, harganya murah terjangkau, panasnya merata dan tahan lama.
"Harga per kilogram hanya berkisar Rp1.200 hingga Rp1.700. Satu kilogram bisa dipakai untuk memasak lebih dari sekali atau bisa memasak beberapa jenis masakan karena panasnya tahan lama," katanya.
Damanik menegaskan, ketidaktahuan warga tentang briket dipengaruhi kebudayaan dan peradaban yang luar biasa. Di beberapa negara maju lainnya terjadi urutan kebiasaan berdasarkan efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan energi.
"Di China misalnya, awalnya orang menggunakan kayu bakar. Setelah kayu bakar maka orang berpindah ke batubara. Sampai saat ini pabrik-pabrik besar di China masih menggunakan batu bara," katanya.
Sedangkan minyak tanah dan gas menjadi pilihan terakhir ketika dua sumber daya terdahulu berangsur-angsur berkurang. Tetapi di Indonesia terbalik. Setelah kayu bakar, warga langsung menggunakan minyak tanah dan gas yang sumber dayanya sedikit, harganya mahal serta tingkat risikonya tinggi.
Hasil penelitian menunjukkan, sumber gas di Indonesia masih bertahan tinggal 60 tahun ke depan. Sumber minyak bumi masih bertahan hingga 20 tahun lagi. Sedangkan batu bara masih bertahan hingga 200 tahun.(*)
