Buleleng, Bali (ANTARA) - Peneliti Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja I Ketut Trika Adi Ana menyatakan orang tua harus menjadi guru di rumah kepada anak dengan masalah disleksia.
"Ketika seorang anak kesulitan membaca, banyak orang tua awalnya memilih menunggu. Mereka berharap waktu akan menyelesaikan persoalan itu, namun bagi sebagian anak, kesulitan membaca bukan sekadar fase perkembangan biasa," kata dia di Singaraja, Bali, Sabtu.
Menurut dia, ada kondisi yang disebut disleksia yakni suatu perbedaan cara kerja otak dalam memproses simbol bahasa, yang membuat anak membutuhkan pendekatan belajar yang berbeda.
Disleksia atau gangguan belajar berbasis saraf yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, mengeja, dan memproses bahasa.
Penemu "TrikaIndoDyslexic" atau font khusus bagi anak berpotensi mengalami disleksia visual itu mengungkapkan disleksia bukan tanda rendahnya kecerdasan anak.
Anak dengan disleksia umumnya memiliki kemampuan intelektual yang normal, bahkan tidak sedikit yang menunjukkan bakat luar biasa dalam bidang kreatif, visual, atau pemecahan masalah.
Namun, imbuh dia, yang membedakan adalah cara mereka mengenali huruf, menghubungkan bunyi dengan simbol, dan memproses kata-kata secara cepat.
Anak dengan kebutuhan disleksia memerlukan waktu lebih lama, pengulangan lebih sering, dan strategi pembelajaran yang sistematis. Namun, di ruang kelas yang serba cepat, perbedaan ini sering tidak terakomodasi secara optimal, ujar dia.
"Di sinilah masalah mulai berkembang. Anak yang berkali-kali gagal membaca dengan lancar perlahan membangun pengalaman belajar yang tidak menyenangkan," ungkapnya.
Dosen di Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha itu menjelaskan bahwa membaca tidak lagi dipandang sebagai kegiatan yang membuka jendela dunia, melainkan sebagai sumber kecemasan. Setiap kali diminta membaca keras-keras, jantungnya berdebar.
Akibatnya, imbuh Trika, anak merasa takut salah, takut ditertawakan, takut dianggap bodoh.
Ketika pengalaman ini terulang terus-menerus, imbuh dia, anak tidak hanya mengalami kesulitan akademik, tetapi juga kecemasan akademik yang mendalam.
Trika mengungkapkan kecemasan akademik ini sering menjadi masalah utama di masa depan. Anak yang tidak ditangani dengan tepat cenderung menghindari membaca.
Mereka, katanya, terlihat malas, padahal sesungguhnya sedang melindungi diri dari rasa gagal sehingga menghindari buku menjadi cara untuk menghindari rasa malu.
Ia menjelaskan dalam jangka panjang kebiasaan ini berdampak pada prestasi akademik yang tidak maksimal. Nilai yang rendah memperkuat keyakinan negatif dalam diri anak bahwa ia tidak pintar. Ketika keyakinan ini mengakar, kepercayaan diri menurun, motivasi melemah, dan kemampuan sosial ikut terpengaruh.
Banyak orang tua baru menyadari keseriusan situasi ketika anak mulai menunjukkan perubahan perilaku. Ada yang menjadi pendiam dan menarik diri, mudah marah dan frustrasi, kehilangan minat belajar.
Padahal, kata dia, akar masalahnya sering berawal dari kesulitan membaca yang tidak segera ditangani secara tepat dan empatik.
Oleh karena itu, ujar dia, pencegahan dampak psikologis menjadi sama pentingnya dengan meningkatkan kemampuan literasi itu sendiri.
"Dalam konteks inilah, peran orang tua menjadi sangat krusial. Sekolah memang memiliki tanggung jawab pendidikan, tetapi waktu guru bersama anak terbatas. Satu guru harus membagi perhatian kepada banyak siswa. Intervensi individual tidak selalu dapat dilakukan secara intensif. Sebaliknya, orang tua adalah figur yang paling konsisten hadir dalam kehidupan anak," kata dia.
Bukan hanya itu saja, lanjut dia, orang tua perlu memahami disleksia dan dampaknya. Pemahaman ini akan mengubah cara pandang terhadap anak.
"Anak tidak lagi dianggap malas atau kurang usaha, melainkan dipahami sebagai individu yang membutuhkan strategi belajar berbeda," katanya.
Pewarta: Rolandus Nampu/IMBA PurnomoEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026