Denpasar (Antara Bali) - Masyarakat Bali yang kehilangan kekebalan daya tubuh akibat terserang HIV/AIDS diperkirakan mencapai 7.000 kasus hingga Oktober 2010.

"Kami sangat prihatin dengan terus meningkatnnya kasus HIV/AIDS di Bali," kata anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI I Gusti Ngurah Kesuma Kelakan ST, Msi, disela-sela seminar "Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS" di Gedung Wiswa Sabha, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Jumat.

Berdasar total jumlah kasus yang dilaporkan ke KPA Provinsi Bali hingga Oktober 2010 hanya sebesar 3.778 kasus. Namun dari data KPA Bali jumlahnya jauh lebih besar lagi diprediksikan mencapai 7.000 kasus.

Menurut Alit Kelakan, minimnya jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan ke KPA Bali merupakan fenomena gunung es sebab jumlah pengidap yang  terlihat, jauh lebih kecil dari jumlah sebenarnya.

Sebagian besar masyarakat masih enggan memeriksakan diri, karena masih ada stigma dan diskriminasi terhadap pengidap HIV/AIDS di masyarakat, ujar Alit kelakan.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Sementara Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan berbagai gejala dan infeksi sebagai akibat dari hilangnya sistem kekebalan tubuh karena infeksi dari Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Mengutip data kasus HIV/AIDS di Bali yang menunjukkan peningkatan setiap tahunnya, jika tahun 2004, jumlah kasus HIV/AIDS tercatat pada Dinas Kesehatan Bali, hanya 590 kasus satu tahun berikutnya melonjak menjadi 1.253 kasus pada tahun 2007.   

"Saya sangat prihatin melihat penyebaran kasus HIV/AIDS di Bali yang seolah tidak terkendali," tegas mantan Wakil Gubernur Bali ini. 

Seminar tersebut digelar Kesuma Kelakan yang merupakan Anggota Parliamentry's Group on MDGS  DPD RI dalam masa reses, guna menyerap informasi dan kebijakan yang sudah dilakukan pemerintah Bali menyangkut persoalan HIV/AIDS.

Dua hal pokok yang menjadi fokus pembahasan dalam seminar yakni menyangkut persoalan anak yatim piatu dari orang tua yang positif HIV  dan penanganan ibu hamil positif HIV.

"Kedua persoalan ini perlu menjadi perhatian karena menyangkut generasi penerus bangsa ini," tegas Kesuma Kelakan. Turut menjadi pembicara Pokja Humas dan Informasi KPA Bali, Prof. I Nyoman Mangku Karmaya dan dr Oka Negara aktivis "Kita Sayang Remaja" (Kisara) Bali.

Pemerintah juga perlu memberi perhatian pada ibu hamil yang terinfeksi HIV, agar mereka bisa melakukan pencegahan penularan HIV kepada bayinya.

Hingga kini, pelaksanaan program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (preventing mother-to-child transmission/PMTCT) belum berjalan optimal. Padahal program PMTCT sudah tersedia di sejumlah rumah sakit di Bali.

Program PMTCT mengurangi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi menjadi hanya satu hingga tiga persen tanpa menjalani program PMTCT, risiko penularan HIV dari ibu hamil positif HIV ke bayinya mencapai 30 persen. (*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026