"Di tengah kondisi sampah plastik yang mengerikan itu sangat kontradisiktif karena Bali mencanangkan untuk menjadi provinsi bersih dan hijau," kata Gubernur Mangku Pastika pada kegiatan simakrama atau semacam "open house" dengan masyarakat di Denpasar, Sabtu.
Pada pertemuan dengan berbagai elemen masyarakat itu, ia mengatakan telah melakukan sejumlah strategi yang telah dilakukan maupun yang akan diterapkan dalam waktu dekat.
Upaya yang akan dilakukan itu saat ini masih dipikirkan secara matang dengan melibatkan pelajar sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
Pelajar setiap ke sekolah wajib membawa sampah plastik yang dikumpulkan dari rumah maupun lingkungan sekolah. Sampah plastik tersebut ada yang menampung dan siswa mendapat imbalan.
"Hasil imbalan atas pengumpulan sampah plastik itu ditabung oleh siswa, sehingga lama-lama simpanan itu akan menjadi besar," ujarnya.
Untuk itu pihaknya sedang mengupayakan modal dan pengusaha yang menampung sampah plastik tersebut, yang semuanya itu diharapkan bisa terealisasi dalam waktu dekat, harap Gubernur pastika.
Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bali Anak Agung Gede Alit Satrawan menambahkan, pihaknya merangkul berbagai elemen, termasuk Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) yang bernaung di bawah Kementerian Perindustrian untuk mendaur ulang sampah menjadi produk yang bernilai ekonomis.
Kerja sama dengan BBPK dan menggandeng Tetra Pak Indonesia itu diharapkan mampu mengolah sisa-sisa yang tidak berguna menjadi berbagai jenis kertas.
Tetra Pak Indonesia selama ini sudah membuka kantor cabang di Bali untuk melakukan pemilahan sampah guna dijadikan bahan baku kertas. Hasil dari pemilahan sampah plastik dikirim untuk bahan baku pabrik kertas di Jawa timur.
"Dengan telah terjalinnya kerja sama antara Pemprov Bali, BBPK dan Tetra Pak Indonesia dalam melakukan pemihanan sampah ke depan diharapkan bisa diolah di Bali," harap Alit Sastrawan.
Kertas dari hasil upaya mendaur ulang sampah diharapkan bisa diserap oleh pasar di Bali, mengingat kebutuhan kertas untuk berbagai kepentingan di Bali cukup besar.
"Tahap pertama dalam usaha sosialisasi diharapkan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) tingkat provinsi maupun kabupaten kota se Bali memelopori untuk memanfaatkan kertas hasil olahan dari sampah," harap Alit Satrawan.
Selain itu akan merangkul pihak perhotelan dan komponen pariwisata untuk menggunakan kertas hasil olahan dari sampah. Upaya tersebut sekaligus mendukung promosi sektor pariwisata di Pulau Dewata.
Wisatawan mancanegara dengan melihat dan langsung memakai kertas hasil pendaurulangan sampah di hotel tempatnya menginap masing-masing akan menyebarluaskan setelah kembali ke negara asalnya.
Upaya tersebut diharapkan mampu memberikan dampak positif untuk mewujudkan Bali bebas sampah plastik tahun 2013, sekaligus Bali menjadi "Green Province", harap Alit Sastrawan.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.