Hal itu sangat dipengaruhi oleh tahun ajaran baru mulai sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi, kata Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali Panasunan Siregar di Denpasar, Jumat.
Panasunan Siregar menyebutkan tingkat inflasi tahun kelender September 2015 sebesar 2,17 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun, yakni September 2015 terhadap September 2014, sebesar 7,92 persen.
Inflasi di bekas Ibu Kota Sunda Kecil yang meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) itu, kata Panasunan, selain dipengaruhi oleh tahun ajaran baru bagi anak-anak sekolah juga kebijakan pemerintah bidang energi, yakni tarif dasar listrik, bahan bakar minyak (BBM), dan elpiji.
Peningkatan harga ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 1,25 persen; kelompok sandang 0,45 persen; kelompok kesehatan 0,34 persen; kelompok bahan makanan 0,29 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,27 persen; kelompok bahan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,11 persen.
Adapun penurunan indeks terjadi pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,06 persen.
Panasuna menjelaskan bahwsa komoditas yang mengalami peningkatan harga selama September 2015, antara lain beras, ketela pohon, buncis, ketimun, ikan tongkol, rokok keretek filter, tarif kontrak rumah, dan biaya pendidikan untuk semua jenjang pendidikan formal.
Komoditas yang mengalami penurunan harga, antara lain bawang merah, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, apel, dan bensin nonsubsidi.
Ia menyebutkan dari 82 kota di Indonesia yang menjadi sasaran survei, sebanyak 46 kota di antaranya mengalami inflasi dan 36 kota deflasi. Inflasi tertinggi terjadi Merauke 1,33 persen dan terendah di DKI Jakarta 0,01 persen.
"Deflasi tertinggi terjadi di Sibolga sebesar 1,85 persen dan terendah di Bandung 0,01 persen," katanya.
Jika diurut dari kota yang mengalami inflasi tertinggi, lanjut dia, Singaraja berada di urutan ke-21 dari 46 kota yang mengalami inflasi. (WDY)
Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.