Denpasar (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Bali menyampaikan belum melihat dampak dari kebijakan efisiensi meskipun terjadi deflasi di Bali sepanjang Februari 2025.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Bali Kadek Agus Wirawan di Denpasar, Senin, mengatakan untuk menyimpulkan ada dampak dari efisiensi harus melihat tiap komoditas lebih dalam.
“Belum bisa dibaca, mungkin kalau dikaitkan dengan teori ekonomi pengaruh kebijakan pemerintah pasti ada apalagi sifatnya masif nasional, tapi dari catatan kami memang tidak secara langsung bisa disimpulkan seperti itu, harus dilihat lebih dalam lagi komoditas-komoditas apa saja,” kata dia.
Dari pencatatan BPS Bali, kondisi penurunan harga barang terus menerus yang berpotensi terjadi penurunan daya beli masyarakat ini masih didominasi oleh turunnya tarif dasar listrik karena diskon sejak Januari.
“Pencatatan kami murni disebabkan dominan oleh tarif dasar listrik, jadi untuk barang-barang lain tidak begitu kelihatan, untuk komoditas bahan pokok malah yang turun cuma bawang merah, cabai, dan holtikultura sisanya inflasi,” ujar Kadek Agus.
Baca juga: BPS ungkap faktor penyebab luas panen padi terus turun di Bali
BPS Bali mendata, secara bulanan pada Februari 2025 Bali mengalami deflasi sebesar 0,57 persen dengan kelompok pengeluaran paling memberi andil tertinggi deflasi adalah perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan deflasi 3,66 persen.
Jika dirinci berdasarkan komoditasnya, lima komoditas penyumbang deflasi yaitu diskon tarif listrik 0,5 persen, diikuti bawang merah 0,1 persen, cabai rawit 0,08 persen, sawi hijau 0,07, dan tomat 0,06 persen.
Namun, masih terdapat komoditas yang menahan penurunan harga atau penahan deflasi yaitu bensin 0,03 persen, pepes 0,03 persen, wortel 0,02 persen, daging babi 0,02 persen, iuran pembuangan sampah 0,02 persen, dan bahan bakar rumah tangga 0,02 persen.
“Terlihat ada pengaruh kenaikan harga bahan bakar (bensin) tapi non subsidi jadi dampak terhadap kenaikan harga tidak terlalu besar untuk mengalahkan dampak deflasi tarif dasar listrik,” ujar Kadek Agus.
Apabila dilihat dari empat kota cakupan BPS Bali yaitu Denpasar, Tabanan, Badung, dan Singaraja, mereka menemukan bahwa secara bulanan deflasi terdalam di terjadi di Tabanan dengan 1,05 persen dan terdangkal di Denpasar dengan 0,13 persen, namun keempatnya deflasi.
Baca juga: 6,3 juta lebih turis wisata ke Bali sepanjang 2024