Bangli (Antara Bali) - Jajan dengan menggunakan bahan baku  ubi kayu saat ini hanya pemasarannya bersifat lokal, yakni di pasar-pasar tradisional.

"Sebenarnya banyak sekali resep-resep jajan tradisional dari bahan ubi kayu yang menarik bagi konsumen, namun sayang hingga kini produk kami hanya sampai di pasar tradisional saja," kata Ni Wayan Sukreni salah seorang pembuat aneka makanan olahan ubi kayu ditemui di Pasar Kintamani, Selasa.

Ia mengatakan, produk yang dihasilkan belum dikenal secara luas akibat teknik pengolahannya masih menggunakan sistem tradisional.     

Permasalahan terletak pada permodalan dan peralatan yang masih sangat terbatas, sehingga belum mampu melakukan produksi dalam skala besar.

"Selain butuh modal besar juga peralatannya tidak bisa sekedarnya, karena ini menyangkut higienitas dan kualitas dari jajanan itu, " katanya. 

Ia mengaku, banyak perajin yang masih belum mengetahui cara mengelola jajan secara profesional, karena saat ini perajin menggunakan alat tradisional dalam pengolahan.

Ni Wayan Sukreni menyebutkan, karena pengelolaan sangat tradisional, konsumen untuk kalangan menengah ke atas masih belum bisa menerima makanan olahan tersebut.

"Produk baik berupa lempog, maupun makanan olahan lainnya sangat identik dengan makanan rakyat, jadi kita belum bisa menjual ke pasar modern," ungkapnya.

Meski demikian, kata Sukreni  sejumlah pedagang makanan olahan sejenis mengatakan permintaan di pasar tradisional di Bangli masih cukup tinggi.

Bahkan, jelas Sukreni pada setiap hari pasaran para pedagang makanan olahan ubi ini barang dagangannya selalu habis.

Terkait minimnya peralatan pengolahan ubi itu, kata Sukreni, pihaknya meminta kepada Pemerintah Kabupaten Bangli untuk memberikan bantuan, sehingga ke depan olahan ubi kayu itu lebih mantap.(*)



: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026