Denpasar (Antara Bali) - Sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) swasta di Bali terpaksa ditutup karena tidak dapat siswa untuk kelangsungan operasional sekolah bersangkutan dalam tahun ajaran 2009/2010.

Demikian pula sejumlah Sekolah Dasar (SD) yang murid sedikit dengan lokasi yang saling berdekatan juga digabungkan sebagai tindakan efisiensi, tanpa mengurangi kelancaran proses belajar mengajar, kata Kabag Publikasi dan Dokumentasi pada Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali I Ketut Teneng di Denpasar, Sabtu.

Ia mengatakan, akibat penggabungan dan sejumlah sekolah yang terpaksa tidak beroperasi lagi menyebabkan fasilitas pendidikan di Bali berkurang. Namun khusus untuk Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) bertambah karena adanya pembangunan fasilitas baru.

SD kini hanya tercatat 2.456 buah menampung 413.490 murid yang berarti ada penggabungan 18 unit, karena tahun 2009 di Bali tercatat memiliki 2.474 SD dengan  396.817 murid.

SMP swasta yang tutup sebanyak empat buah dari 394 buah hingga kini menjadi 390 buah seluruhnya menampung 171.712 siswa yang tersebar di delapan Kabupaten dan satu kota di daerah ini.

Ketut Teneng menjelaskan, empat SMA swasta juga tidak berlanjut dalam proses belajar mengajar, sehingga fasilitas pendidikan itu berkurang dari 182 buah kini menjadi 178 buah yang seluruhnya menampung 78.020 siswa.

Namun khusus SMK ada penambahan 20 unit dari 110 buah pada 2009 kini menjadi 130 buah yang seluruhnya menampung 58.413 siswa. Demikian pula Taman Kanak-Kanak (TK) dalam setahun bertambah 60 unit dari 1.121 buah menjadi 1.182 buah dengan menampung 62.784 murid, meningkat 5.011 orang dari tahun sebelumnya yang hanya 57.773 orang.

Dengan demikian fasilitas pendidikan di Bali dari TK hingga SMA/SMK seluruhnya tercatat 4.352 buah tersebar di delapan kabupaten dan satu kota di Bali, ujar Ketut Teneng.

Sektor pendidikan merupakan salah satu dari tujuh program unggulan Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Wagub AAN Puspayoga dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sektor pendidikan yang menyangkut berbagai aspek itu juga menangani program wajib belajar (Wajar) pendidikan dasar sembilan tahun di daerah ini.

Khusus untuk Wajar sembilan tahun disediakan dana sebesar Rp41,1 miliar, yang diarahkan untuk berbagai kegiatan proses belajar mengajar tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Kegiatan yang menjadi sasaran wajar sembilan tahun antara lain pembinaan olympiade nasional SMP dan memberikan bea siswa kepada siswa yang orang tuanya kurang mampu untuk jenjang SD dan SMP.

Selain itu juga melakukan pembinaan olympiade bidang studi MIPA untuk tingkat SD serta lomba gugus dan kreativitas tingkat sekolah dasar pada delapan kabupaten dan satu kota di Bali, tutur Ketut Teneng.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026