Vila yang belakangan ini banyak bertebaran di daerah perdesaan menjadi pilihan wisatawan mancanegara setelah dinilai cukup nyaman turis yang datang dari berbagai negara di belahan dunia.
Turis India, Korea, Taiwan maupun asal Tiongkok. dalam liburannya ke Bali memang lebih senang menginap di hotel-hotel atau vila yang berlokasi di daerah pinggiran sungai atau tebing di daerah perdesaan.
Hotel bintang lima yang berlokasi di daerah kawasan wisata Begawan, Payangan 35 Km timur laut Denpasar lebih banyak tamu yang dilayani berasal dari India maupun negara lainnya. Mereka lebih senang menginap di daerah pedesaan sambil menyaksikan pemandangan alam yang dilengkapi dengan gemercikan air di Sungai Ayung, sungai terpanjang di Bali.
Mereka bisa menginap di sini dua atau tiga hari kemudian beralih ke hotel yang ada di daerah pesisir pantai seperti di kawasan wisata Sanur, Nusa Dua atau di perkampungan turis dunia di daerah pantai Kuta, Seminyak maupun di daerah Kerobokan Badung.
Itulah prilaku dan kebiasaan wisatawan mancanegara dalam menikmati liburan ke Bali yang jumlahnya cenderung semakin meningkat. Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Bali Panasunan Siregar, Bali selama tujuh bulan periode Januari-Juli menerima menerima 2,08 juta wisman.
Kondisi itu meningkat 16,66 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya tercatat 1,79 juta orang, sehingga optimis target yang ditetapkan untuk Bali tahun 2014 sebanyak 2,7 juta dapat tercapai, bahkan terlampaui.
"Pengembangan pariwisata yang demikian itu dapat dilakukan secara merata di seluruh daerah di Indonesia, bukan semata-mata hanya di Bali, mengingat potensi untuk itu sangat memungkinkan," tutur Pengamat Pariwisata Ida Bagus Surakusuma.
Padahal dari segi potensi, keindahan alam dan keunikan seni budaya daerah di kawasan timur Indonesia tidak kalah menariknya dibandingkan dengan Bali yang selama ini sudah dikenal masyarakat internasional.
Pemerintahan Jokowi-JK berencana menggenjot angka kunjungan wisatawan dua kali lipat dari selama ini 10 juta menjadi 20 juta wisatawan mancanegara sampai lima tahun mendatang.
Untuk itu Menteri Pariwisata dalam Pemerintahan Jokowi-JK harus betul-betul orang tepat yang menguasai teknis dan non teknis dalam menggenjot kunjungan wisman tersebut.
"Menteri pariwisata harus mempunyai kemampuan dalam meningkatkan kinerja, karena menambah kunjungan wisatawan berlipat ganda itu tidak mudah," tutur Ida Bagus Surakusuma yang juga Direktur PT Pacific World Nusantara.
Pria yang akrab disapa Gus Lolec yang lebih dari 35 tahun bergerak dalam jasa pariwisata melihat sosok Menteri Pariwisata mempunyai peran yang sangat strategis, sehingga harus harus betul-betul profesional yang sebelumnya telah mempunyai pengalaman yang mampu membaca potensi pariwisata dan kesiapan dari masing-masing daerah di Indonesia.
Meskipun calon menteri itu sangat "langka", namun ada putra-putra terbaik bangsa Indonesia yang memiliki kemampuan dan kriteria seperti itu
Ciri khas daerah
Gus Lolec mengatakan, pengembangan pariwisata di berbagai daerah di Indonesia harus mempunyai ciri khas sesuai potensi yang dimiliki masing-masing daerah yang mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Keberagaman pengembangan pariwisata yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya itu terintegrasi dalam satu jaringan dihubungkan oleh transportasi yang lancar, darat, laut maupun udara.
Kelancaran transportasi itu sangat penting dalam memberikan kemudahan kepada wisatawan dalam menikmati keunikan atau daya tarik bagi masing-masing daerah tujuan wisata di Nusantara.
Peningkatan wisman dua kali lipat atau rata-rata 20 persen per tahun yang ditargetkan pemerintahan baru itu sebenarnya masih cukup wajar dibandingkan negara lain Malaysia dan Singapura yang jauh lebih tinggi.
Bali yang selama ini sebagai daerah tujuan wisata yang sudah dikenal masyarakat dunia untuk mencapai sasaran itu tampaknya tidak masalah, namun sangat bermasalah bagi daerah-daerah lain yang selama ini pariwisatanya belum bergitu berkembang.
Untuk itu perlu upaya terobosan, kerja keras, dukungan dana yang memadai untuk promosi, disamping sosok menteri pariwisata yang menguasai kemampuan teknis dan non teknis.
"Untuk itu pembantu presiden yang menangani masalah kepariwisataan itu harus betul-betul orang yang tepat, disamping mendapat dukungan lintas kementerian," ujar Gus Loloec yang juga menjabat sebagai Konsul Polandia.
Pengembangan pariwisata seperti yang telah dibuktikan oleh daerah tujuan wisata Pulau Bali memberikan hasil positif dalam menopang perekonomian dan memacu tingkat kesejahteraan masyarakat.
Dengan demikian pengembangkan usaha yang bergerak dalam bidang pariwisata itu memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang bisa diandalkan di masa mendatang.
Untuk itu penataan pariwisata perlu segera dapat dilakukan di masing-masing daerah di Nusantara sesuai potensi, keunggulan lokal dan karakter masyarakatnya dengan terlebih dulu menatar dan mencerdas para bupati, wali kota dan gubernur tentang kepariwisataan.
Hal itu sebenarnya sudah dirintis pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan mempromosikan pengembangan pariwisata di sejumlah daerah di Indonesia.
Promosi pengembangan pariwisata daerah ke dunia internasional itu antara lain Bunaker di Manado, Sulawesi Utara dan Komodo di Nusa Tenggara Timur (NTT), ujarnya.
Wakili keberagaman
Ketua Program Studi Doktor Ilmu Agama Pascasarjana Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Dr I Ketut Sumadi mengharapkan Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla dalam menyusun kabinet menterinya menempatkan orang-orang profesional yang mampu mewakili keberagaman etnis dan budaya di Nusantara.
Selain itu menambah satu menteri yakni menteri kebudayaan yang selama ini dirangkap menteri pendidikan dan kebudqyaan. Hal itu didasarkan atas seni budaya yang sangat beragam di seluruh daerah di Indonesia sehingga memerlukan perhatian serius dan sungguh-sungguh.
Dengan kehadiran menteri yang khusus mengurus masalah kebudayaan, maka seni budaya daerah yang menjadi kekuatan seni budaya nusantara akan lebih terangkat ke permukaan.
Indonesia memiliki keragaman budaya yang sangat kaya tersebar di seluruh nusantaradan ingin mewujudkan sebagai negara Adidaya Budaya yang dapat memberi landasan dan mewarnai kebudayaan dunia.
Dengan demikian kehadiran Menteri Kebudayaan sangat strategis dalam pemerintahan baru dalam mewujudkan sasaran tersebut. Pilar utama yang perlu mendapat penekanan antara lain penguatan jati diri dan karakter bangsa, pelestarian karya dan warisan budaya serta penguatan diplomasi budaya.
Hal lain yang tidak kalah penting pengembangan kelembagaan dan sumber daya manusia (SDM) kebudayaan serta pengembangan sarana dan prasarana kebudayaan.
Untuk itu Bali memiliki sumber daya manusia yang andal, salah seorang putranya yang terbaik selama ini selalu mendapat kepercayaan sebagai pembantu presiden. Hal itu diharapkan kembali bisa dipercaya Presiden Jokowi untuk lima tahun ke depan, harap Sumadi.
Selama ini empat putra Bali pernah dipercaya sebagai menteri, mulai dari IB Sujana (almarhum) sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada zaman pemerintah Soeharto, menyusul Ida Bagus Oka (alm) sebagai Menteri KB dan Kependudukan pada zaman pemerintahan orde baru.
Selain itu Drs I Gede Ardika sebagai Menteri Pariwisata pada zaman pemerintahan Presiden Megawai dan Jero Wacik sebagai Menteri Pariwisata dan Menteri ESDM pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Putra-putra terbaik Bali dari kalangan profesional dinilai mempunyai kemampuan sebagai "pembantu" Presiden tidak hanya terbatas bidang pariwisata, namun juga menguasai bidang lainnya termasuk seni budaya dan pertanian, ujar Ketut Sumadi. (WDY)
Pewarta: Oleh I Ketut Sutika: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026