"Nilai tukar rupiah cenderung minim fluktuasi dikarenakan jumlah hari kerja di dalam negeri pada pekan ini yang sedikit seiring hari libur nasional," kata Pengamat Pasar Uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova di Jakarta, Senin.
Menurut dia, ruang penguatan bagi rupiah masih cukup terbuka menyusul kondisi fundamental ekonomi di Indonesia masih cukup solid, meski beberapa sentimen terutama dari eksternal masih membatasi kenaikan mata uang domestik.
"Indikasi bank sentral AS (the Fed) berencana untuk normalisasi kebijakan moneternya dengan meningkatkan suku bunga dapat membuat laju mata uang rupiah tertahan," katanya.
Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menambahkan bahwa sentimen bisnis Jerman yang mengalami penurunan dapat berdampak pada mata uang rupiah.
"Kondisi itu mendorong penguatan dolar AS di pasar global, nilai tukar rupiah dapat terkena dampaknya dari sentimen eksternal," katanya.
Di sisi lain, lanjut dia, pelaku pasar global, termasuk di dalam negeri sedang menantikan hasil pertemuan bank sentral Eropa (ECB) terkait stimulus keuangan dalam mendorong pertumbuhan Eropa.
"Pasar akan menanti petunjuk tambahan mengenai apa yang akan terjadi pada pertemuan dewan ECB pada Kamis pekan ini," katanya. (WDY)
Pewarta: Oleh Zubi Mahrofi: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026