Denpasar (Antara Bali) - Jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Denpasar, mengalami peningkatan setiap harinya antara 15 sampai 20 pasien, demikian data dari rumah sakit tersebut.

"Jumlah pasien DBD di RSUP Sanglah dibandingkan pada tahun sebelumnya mengalami peningkatan hingga 100 persen," ujar Kepala Bidang Penunjang Medis RSUP Sanglah dr Ken Wirasandhi di Denpasar, Jumat.

Ia mengatakan dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama per harinya rata-rata pasien yang dirawat inap di RSUP Sanglah Denpasar jumlahnya mencapai enam hingga 10 orang.

"Jumlah kasus DBD tersebut pada bulan Januari hingga Maret tahun 2014 dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama mengalami peningkatan," ujarnya.

Untuk insiden kematian yang diakibatkan kerena penyakit DBD tersebut, lanjut dia, belum sampai menelan korban meninggal dunia.

Selain itu, tanda dan gejala dari DBD ini berupa panas badan tinggi sampai tidak kunjung turun, badan terasa pegal, sakit kepala. "Bukan menunggu tanda adanya bintik-bintik nyamuk di areal kulit dikatakan DBD," ujarnya.

Selain itu, apabila seseorang terkena DBD diwajibkan beristirahaat total dan minum air putih yang banyak sehingga sel-sel darah yang berada di dalam tubuh tidak cepat diserang.

"Apabila ini dilakukan tidak akan muncul gejala-gejala lain yang menyertai DBD seperti mual dan muntah," ujarya.

Hal senada juga dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr Ketut Suarjaya, MPPM bahwa pada Januari hingga Maret 2013 jumlah kasus sebanyak 1.485, sedangkan tahun 2014 di periode yang sama mencapai 2.572.

"Kasus DBD di Bali terjadi peningkatan dua kali lipat dari tahun sebelumnya pada periode yang sama di tahun 2014," ujarnya.

Untuk itu dr Ken Wirasandhi meminta masyarakat agar waspada penyakit demam berdarah denguw (DBD) dengan melakukan upaya pencegahan dini.

"Saya mengimbau agar masyarakat melakukan pencegahan terlebih dahulu sebelum melakukan pengobatan," katanya.

Ia mengatakan cara penanggulangan DBD dengan melakukan upaya memberantas sarang nyamuk dan melaksanakan upaya menguras, menutup dan mengubur (3M).

"Masyarakat tidak perlu mengluarkan modal untuk melakukan 3M tersebut sehingga secara otomatis dapat memutus rantai perkembangan nyamuk," ujarnya.

Ken menjelaskan upaya penyemprotan (foging) sarang nyamuk belum efektif untuk mencegah perkembangan nyamuk karena kegiatan tersebut harus dilakukan pada pagi hari. (WDY)

Pewarta: Oleh I Made Surya
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026