Denpasar (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bali meminta masyarakat terutama orang tua mewaspadai demam berdarah dengue (DBD) pada balita buntut kasus satu orang balita meninggal dunia.

“Kasus DBD memang pasti ada sepanjang tahun, tapi perlu kewaspadaan kita sebagai orang tua apabila kondisi anak sudah demam kemudian di sekelilingnya ada banyak penampungan air, kondisinya tidak bersih perlu diwaspadai dan kalau sudah demam langsung dibawa ke fasilitas kesehatan,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali I Gusti Ayu Raka Susanti di Denpasar, Selasa.

Ia menjelaskan sepanjang Januari-Juli 2026, terdapat 1.588 kasus positif dengan dua kasus meninggal dunia, salah satunya seorang balita di Kabupaten Buleleng pada April lalu.

Kasus pada balita menjadi perhatian, lantaran penanganannya akan lebih sulit dibanding orang dewasa.

“Anak-anak itu tidak semudah kita, apabila disuruh untuk minum obat atau mengonsumsi yang bergizi untuk melawan virusnya, juga biasanya kalau balita dia tidak bisa mengeluh jadi tidak bisa kita prediksi dia demamnya mulai dari kapan,” ujar Raka Susanti.

Dinkes Bali juga menyadari orang tua sulit mengantisipasi demam tersebut namun setidaknya penanganan terhadap kasus balita harus lebih cepat.

Meski demikian, Raka Susanti mengingatkan untuk kasus demam berdarah dapat terjadi pada siapa saja dengan kondisi beragam pula, seperti pada beberapa orang, DBD bisa bereaksi cepat.

“Tidak bisa bilang juga terlambat penanganan sebagai alasan, karena kondisi masing-masing orang untuk merespons suatu penyakit berbeda-beda, kadang ada yang baru perkiraan demam 3 hari dia langsung lemah, karena memang yang ditakutkan dari DBD itu Dengue Shock Syndrome-nya,” tuturnya.

Dari sisi pemerintah sendiri, Dinkes Bali menjamin akan terus menekan kasus demam berdarah dengan sosialisasi 3M Plus, pemantauan oleh jumantik, dan pemanfaatan teknologi DBDKlim untuk melihat penyebaran kasus berdasarkan parameter iklim.

Terbukti, kata dia, kasus DBD di Provinsi Bali secara kumulatif separuh tahun ini turun dibanding tahun 2025 lalu, yaitu Januari-Juli 2026 sebanyak 1.588 kasus sementara Januari-Juli 2026 9.116 kasus.

Angka kematian akibat nyamuk Aedes aegypti juga berhasil ditekan dengan hanya dua kasus hingga Juli, sementara secara total pada 2025 lalu mencapai 13 korban.

Selain faktor usia tadi, Dinkes Bali melihat faktor cuaca masih menjadi penyebab utama naik dan turunnya kasus, sehingga masyarakat diminta tidak boleh lengah menjaga lingkungan.



Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026