Begitu mendengar rencana pelepasan puluhan anak hewan langka jenis "olive ridley" yang belum genap berumur sehari itu, para turis ramai-ramai mendatangi tempat penetasan di kawasan pantai yang terkenal di mancanegara tersebut.
Pelepasan itu juga dihadiri para tokoh masyarakat adat setempat serta lembaga ProFauna yang selama ini mendukung kegiatan penyelamatan penyu dan satwa lainnya di Bali.
"Semua anak penyu ini, menetas tadi malam, sekarang kami lepas kembali ke habitatnya di laut," kata Kepala Satgas Pengamanan Pantai I Gusti Ngurah Tresna dihubungi di sela pelepasan tukik.
Tukik yang dilepas itu merupakan hasil penetasan pertama, dan telur lainnya diprediksi akan menetas pada 28 Mei ini.
Sedikitnya 2.000 butir telur penyu lekang ditemukan para petugas satgas maupun wisatawan yang ada di sekitar pantai sejak April lalu.
Telur-telur penyu itu ditetaskan di tempat penangkaran "Sea turtle Conservation" yang berlokasi di tanah milik desa adat setempat di sebuah sarang berukuran 10 x 7x3 meter.
Menurut Tresna, tempat penetasan dirancang khusus berbentuk penyu dan berada di pinggir pantai.
Dari bangunan berbentuk penyu besar itu, di atasnya diberi pasir sebagai sarang penetasan telur. Pada bagian atap bangunan dibuatkan penutup yang bisa dibuka sewaktu-waktu, sebagai ventilasi matahari dan udara.
Tresna, menyebutkan telur-telur penyu langka yang disebut juga penyu hijau itu, membutuhkan waktu sekitar 45 hari untuk menetas.
"Sesuai komitmen kami semua penyu akan dikembalikan ke laut sebagai habitatnya untuk melestarikan hewan langka ini agar tidak punah," katanya.
Selain untuk pelestarian spesies satwa langka, dengan dibuatnya tempat penetasan penyu lekang itu, bisa dijadikan salah satu daya tarik wisatawan.
"Kami harapkan tempat penetasan telur penyu ini menjadi ikon baru pariwisata Pantai Kuta," kata Tresna yang didampingi Wayan Bali, pelaksana proyek "Sea Turtles Consevation" Bali.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026