Denpasar (ANTARA) - Di tengah tren gaya hidup modern yang serba praktis, kebiasaan mengonsumsi minuman manis kini tidak lagi sekadar pelepas dahaga, namun telah menjadi bagian dari identitas sosial dan teman aktivitas harian bagi banyak orang, tak terkecuali kalangan anak muda.
Mulai dari kopi susu kekinian, boba, hingga minuman bersoda, produk-produk ini kian digemari meski di balik kesegarannya tersimpan risiko kesehatan yang nyata.
Terlebih saat libur panjang yang kerap jadi pelarian dari rutinitas keseharian sehingga seolah membolehkan diri mengonsumsi minuman manis lebih dari biasanya berkedok "self love".
Konsumsi gula berlebihan kini disorot sebagai pemicu utama meningkatnya kasus diabetes mellitus tipe 2 di usia produktif.
Kesadaran akan batasan konsumsi gula harian pun mulai didorong sebagai instrumen penting untuk menjaga stabilitas metabolisme tubuh dan mencegah penyakit tidak menular di masa depan.
Penerapan pola konsumsi yang terkontrol diyakini mampu mereduksi risiko komplikasi serius, terutama bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi yang sering terpapar pilihan makanan cepat saji.
Seorang praktisi kesehatan, Dr. Putu Intan Yunita Dewi, mengungkapkan lonjakan kadar gula darah yang terjadi secara cepat akibat minuman berpemanis memberikan dampak buruk jangka panjang jika tidak diimbangi dengan pola hidup sehat.
“Konsumsi kandungan manis berlebihan, terutama minuman berpemanis, secara ilmiah dapat meningkatkan risiko diabetes mellitus tipe 2. Kandungan gula yang tinggi dapat memicu peningkatan kadar gula darah secara cepat,” ujar Dr. Intan di Denpasar, beberapa waktu lalu.
"Kaum rebahan" dan kebijakan pencantuman gula
Meskipun diabetes dulunya identik dengan kelompok usia lanjut, ia menekankan pergeseran zaman dan pola hidup minim gerak sedentari atau kini tren juga disebut sebagai kaum rebahan telah membawa ancaman ini ke generasi yang lebih muda.
“Mayoritas kasus memang pada usia di atas 50 tahun, akan tetapi seiring perubahan zaman banyak anak muda yang tidak menerapkan pola gaya hidup sehat. Ini menjadi perhatian karena diabetes dapat memicu komplikasi seperti penyakit jantung hingga gagal ginjal,” katanya menambahkan.
Pemerintah sendiri saat ini tengah memperkuat kebijakan terkait pencantuman informasi kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) pada kemasan produk guna meningkatkan kewaspadaan konsumen.
Langkah preventif melalui edukasi batas aman konsumsi gula dinilai jauh lebih efektif daripada menangani dampak kesehatan yang sudah terjadi.
Dr. Intan pun membiasakan edukasi ini mulai dari pemahaman angka kecukupan harian yang sederhana.
“Batas aman konsumsi gula harian orang dewasa adalah 50 gram per hari atau setara 4 sendok makan. Anjuran ini bertujuan untuk mencegah risiko diabetes, obesitas, dan penyakit jantung,” tuturnya.
Agar tak jadi "pemuda kena gula"
Bagi masyarakat yang ingin mulai menjaga kesehatan metabolisme, berikut adalah beberapa tips praktis yang dapat diterapkan untuk menekan risiko diabetes:
1. Membatasi konsumsi minuman berpemanis kemasan dan beralih ke air putih.
2. Disiplin mengecek label informasi nilai gizi pada kemasan produk sebelum membeli.
3. Meningkatkan konsumsi sayur dan buah sebagai sumber serat alami.
4. Melakukan aktivitas fisik atau olahraga secara rutin untuk menjaga sensitivitas insulin.
5. Mengurangi pola hidup sedentari dan menghindari kebiasaan mengonsumsi camilan tinggi gula di malam hari.
6. Mengganti gula murni dengan gula nol kalori seperti gula jagung atau stevia.
Melalui langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, risiko penyakit degeneratif dapat senantiasa ditekan.
Hal ini dinilai tidak hanya mendukung kualitas hidup jangka panjang, tetapi juga menciptakan generasi muda yang lebih produktif dan sehat di tengah hiruk-pikuk perkembangan zaman.
Pewarta: Tim Redaksi Antara BaliEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026