Denpasar (ANTARA) - Dinas Kelautan dan Perikanan (KP) Provinsi Bali memetakan sumber daya perikanan laut di delapan kabupaten/kota di Bali setelah mendapat arahan Gubernur Wayan Koster.
“Dari sisi potensi kami sudah petakan, kemarin memang diminta spesifik karena Bali ini kan kecil tapi potensinya besar kecuali di Kabupaten Bangli karena tidak ada laut,” ucap Kepala Dinas KP Bali Putu Sumardiana di Denpasar, Jumat.
Ia menyebutkan dari hasil pemetaan di masing-masing laut terdapat beragam jenis ikan potensial baik konsumsi dalam negeri maupun ekspor.
Seperti di Kabupaten Karangasem kaya akan ikan tongkol krai yang berdasarkan data terakhir 2024 produksinya mencapai 20.475,34 ton per tahun atau menjadi jenis ikan tangkapan terbesar di kabupaten di Bali timur itu.
Kemudian di Jembrana paling banyak ditemukan lemuru dengan produksinya 22.501,33 ton, di Buleleng tongkol abu-abu produksinya 4.785,25 ton per tahun, di Klungkung tongkol komo produksinya 2.172,07 ton dan di Tabanan tertinggi ikan layur kepala besar produksinya 74,24 ton.
Selanjutnya di Denpasar ada cakalang dengan produksi setahun 7.501,64 ton, di Badung banyak tembang garis kuning dengan jumlah produksi 2.282,58 ton dan di Gianyar paling banyak ditemukan lemuru dengan produksi 183,06 ton.
“Itu tangkapan paling dominan di masing-masing kabupaten/kota tapi di luar itu masih ada lagi, tapi untuk data terakhir masih 2024 namun setiap tahun cenderung stabil di angka tersebut,” kata Kepala Dinas KP Bali.
Di luar ikan-ikan tersebut masih banyak jenis lainnya di laut delapan kabupaten/kota di Bali, bahkan di Buleleng bibit ikan bandeng menjadi komoditas ekspor yang menjanjikan untuk kelompok nelayan.
“Luas lautan Bali itu 915,3 ha atau sekitar 62 persen dari daratan dengan pantai yang paling luas itu Buleleng, di Buleleng ada juga bandeng, selama ini yang banyak diekspor itu bibit bandeng, namanya nener sekarang kita mulai tidak hanya ekspor bibitnya tapi membudidayakan itu,” ujar Sumardiana.
Ia mengatakan hasil pemetaan ini akan disampaikan ke Gubernur Koster untuk menunjukkan bahwa potensi kekayaan laut Bali begitu besar dan dapat dikembangkan.
Seperti bibit bandeng tadi, biasanya nelayan mengekspor satu juta ekor bibit dalam satu kali proses ke Filipina dengan nilai Rp2 per ekor.
Setelah dibudidayakan ternyata nilainya lebih tinggi menjadi Rp3.000 per ekor atau Rp25.000/kg hanya saja membutuhkan waktu beberapa bulan untuk panen.
Begitu pula potensi ekspor ikan jenis kerapu dari Jembrana, sementara ikan jenis lainnya dioptimalkan untuk konsumsi di Bali maupun dalam negeri sehingga tercipta kedaulatan pangan.
“Pak Gubernur kan bilang harus dipetakan, ya ini memang beda-beda, kalau di Gianyar tongkol atau di Karangasem cakalang itu kan banyak untuk konsumsi disini, itu bisa jadi ikan pindang yang sekarang kami sedang petakan sentra-sentranya, bagus ini untuk kedaulatan pangan,” ujar Sumardiana.
Sumardiana mencatat hingga saat ini masih ada 27.033 orang nelayan di Bali yang aktif, mereka tergabung dalam kelompok-kelompok yang sehari-hari masih melaut.
“Untuk nelayan kita kendala juga ada banyak tapi rata-rata paling berpengaruh ya perubahan iklim, sehingga membuat mereka pada bulan-bulan tertentu tidak bisa melaut, paceklik,” ucapnya.
Selain memetakan potensi ikan di laut, Pemprov Bali juga menyisir potensi ikan budidaya, di mana banyak tambak sukses membudidayakan lele, udang vename, nila, kerapu macan, ikan mas, gurami, patin, hingga lobster dan tersebar di seluruh kabupaten/kota.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026