Denpasar (ANTARA) -

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Bali mencatat realisasi kredit usaha rakyat (KUR) dan pembiayaan ultra mikro selama 2025 menembus angka Rp10,80 triliun kepada 149.372 debitur di Pulau Dewata.

“Segmentasi terbesar diserap oleh pelaku usaha mikro,” kata Kepala Kantor Wilayah DJPb Provinsi Bali Muhamad Mufti Arkan di Denpasar, Bali, Kamis.

Tahun 2025 penyaluran KUR di Bali lebih rendah 1,31 persen jika dibandingkan 2024 mencapai Rp10,86 triliun, katanya menjelaskan.

Nilai penyaluran tertinggi terdapat di Kota Denpasar sebesar Rp1,77 triliun kepada 17.930 debitur. Namun, jika melihat dari jumlah debitur maka yang terbanyak terdapat di Kabupaten Buleleng sebanyak 28.043 debitur dengan jumlah penyaluran kredit mencapai Rp1,36 triliun.

Berdasarkan bank penyalur, kucuran tertinggi di Provinsi Bali dilakukan oleh Bank Rakyat Indonesia sebesar Rp6,70 triliun kepada 107.763 debitur, disusul oleh Bank BPD Bali sebesar Rp1,55 triliun kepada 8.922 debitur.

Berdasarkan skema, penyaluran terbesar berada di skema KUR mikro sebesar Rp6,75 triliun dengan 119.556 debitur.

Kemudian disusul oleh skema KUR kecil sebesar Rp3,84 triliun kepada 13.126 debitur dan skema penyaluran terendah adalah skema tenaga kerja Indonesia (TKI) sebesar Rp35 juta kepada satu orang debitur.

Apabila dirinci lagi, dari sektor ekonomi, perdagangan besar dan eceran masih mendominasi sebesar 39 persen disusul oleh sektor Pertanian, Perburuan dan Kehutanan sebesar 23 persen, kata Mufti menambahkan. 

Plafon KUR di Bali pada 2025 mencapai Rp10,84 triliun dan untuk 2026 pihaknya masih menunggu alokasi dari pemerintah.

Ia mengatakan optimistis perekonomian di Bali tumbuh positif pada 2026 didukung beberapa indikator di antaranya geliat sektor pariwisata hingga inflasi di Pulau Dewata yang terkendali mencapai 2,91 persen pada 2025.



Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026