Denpasar (Antara Bali) - Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) hingga saat ini masih menghadapi stigma atau anggapan yang buruk dalam upaya bersosialisasi dengan masyarakat.

"HIV/AIDS itu sesungguhnya penyakit yang bisa ditanggulangi asalkan tahu informasinya, tapi yang paling berat bagi kami adalah anggapan miring terhadap ODHA," kata seorang pria, AR, pengidap HIV/AIDS yang menceritakan pengalaman pribadinya dalam lokakarya HIV dengan media, di Sanur, Denpasar, Sabtu.

Menurut dia, begitu ada orang yang diketahui positif HIV maka orang yang bersangkutan langsung dijauhi, bukan hanya oleh masyarakat umum, namun pihak keluarganya sendiri juga menjaga jarak.

Ia menceritakan bahwa sejak tahun 1997 sudah mengonsumsi narkoba jenis putaw dan baru total berhenti tahun 2004, setelah melakukan konseling, dan tes kesehatan, ternyata positif HIV.

Saat ini AR yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat, itu masih mengonsumsi obat antiretoviral (arv) untuk memperlambat penyebaran virus.

Pria berusia 29 tahun itu mengatakan, minimnya informasi yang diterima oleh ODHA juga membuat gelap jalan mereka untuk bisa melanjutkan hidup.

"Begitu tahu kalau positif HIV, saya terus pakai saja itu (narkoba). Pikir saya daripada mati karena HIV lebih baik mati karena narkoba. Itu pikiran saya dulu karena belum mendapatkan informasi mengenai apa itu HIV dan bagaimana pencegahanya," terang AR yang terinfeksi HIV karena penggunaan jarum suntik untuk narkoba secara bergilirian.

Dia mengatakan, melalui "narcotic anonimus", para pecandu diberikan pemahaman, berbagi pengalaman, dan solusi melalui 12 langkah dengan beberapa pendekatan di antaranya secara fisik, mental, emosional, dan spiritual.

Pendekatan pertama, lanjut AR, biasanya dilakukan dengan mengubah pola pikir menjadi lebih baik, mencari jati diri, baru kemudian terakhir dengan pendekatan spiritual.

Sementara itu Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali Made Suprapta mengatakan sejak pertama ditemukan kasus HIV/AIDS di Pulau Dewata tahun 1987 hingga Juni 2012 sudah ada 6.300 lebih temuan kasus penyakit tersebut.

"Jumlah itu termasuk pengidap HIV/AIDS yang meninggal. Namun yang belum terungkap sepertinya masih lebih banyak," katanya.(*/T007)



: Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026